Saya telah membimbing lebih dari 20 mahasiswa dalam penyelesaian skripsi mereka.
Hampir semuanya tahu satu hal:
Penelitian harus memiliki kebaruan. Harus ada kontribusi. Dan sebisa mungkin tidak sekadar mengulang penelitian sebelumnya.
Tetapi ketika sampai pada satu pertanyaan sederhana:
“Apa research gap penelitian Anda?”
Tidak banyak yang bisa menjawabnya dengan baik.
Padahal, research gap bukan sekadar pelengkap dalam proposal penelitian.
Ia adalah alasan mengapa sebuah penelitian perlu dilakukan.
Tanpa research gap yang jelas, klaim tentang kebaruan penelitian akan mudah dipertanyakan.
Lalu, apa sebenarnya research gap?
Apakah research gap berarti kelemahan penelitian terdahulu?
Apakah penelitian yang belum pernah dilakukan otomatis memiliki research gap?
Dan bagaimana cara menemukan research gap dari puluhan artikel jurnal yang sudah kita baca?
Mari kita bahas.
Apa Itu Research Gap?
Secara sederhana, research gap adalah jarak antara apa yang sudah diketahui melalui penelitian dengan apa yang masih belum diketahui, belum dijelaskan, atau belum dipahami dengan memadai.
Penelitian terdahulu sudah memberikan pengetahuan, tetapi pengetahuan itu belum selalu lengkap.
- Masih ada pertanyaan yang belum terjawab.
- Ada temuan yang belum konsisten.
- Ada konteks yang belum diteliti.
- Ada metode yang belum digunakan.
- Atau ada teori yang belum cukup menjelaskan suatu fenomena.
Bagian yang masih terbuka itulah yang dapat menjadi research gap.
Karena itu, research gap tidak sama dengan sekadar mengatakan:
“Belum ada yang meneliti topik ini.”
Kalimat tersebut BELUM CUKUP.
Penelitian baru tidak harus membahas sesuatu yang benar-benar belum pernah diteliti.
Penelitian juga dapat memberikan kontribusi dengan menjelaskan sesuatu yang belum terjawab dari penelitian sebelumnya.
Research Gap Bukan Sekadar Kelemahan Penelitian Terdahulu
Ini salah satu kekeliruan yang cukup sering saya temukan.
Mahasiswa membaca penelitian terdahulu. Kemudian mereka mencari kelemahannya.
Misalnya, penelitian A hanya menggunakan 30 informan. Penelitian B hanya dilakukan pada satu sekolah. Penelitian C menggunakan pendekatan kuantitatif.
Lalu semuanya dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa penelitian tersebut memiliki research gap.
Padahal BELUM TENTU.
Keterbatasan penelitian memang dapat menjadi salah satu sumber research gap. Tetapi keterbatasan tidak otomatis menjadi research gap.
Yang lebih penting adalah pertanyaan:
Apa yang belum kita ketahui karena keterbatasan tersebut?
Misalnya, sebuah penelitian hanya dilakukan pada 30 mahasiswa.
Jumlah tersebut memang merupakan keterbatasan.
Tetapi keterbatasan itu baru menjadi penting jika ada persoalan pengetahuan yang belum terjawab karenanya.
Jadi, jangan hanya mencari kelemahan penelitian terdahulu.
Cari apa yang belum diketahui, belum dijelaskan, atau belum konsisten dalam literatur.
Mengapa Research Gap Penting?
Research gap memberikan alasan ilmiah mengapa penelitian perlu dilakukan.
Tanpa gap yang jelas, penelitian dapat terlihat seperti pengulangan.
Misalnya:
“Penelitian sebelumnya dilakukan di sekolah A. Penelitian ini dilakukan di sekolah B.”
Pertanyaannya adalah: Lalu, apa yang baru?
Perbedaan lokasi belum tentu cukup. Harus ada alasan mengapa konteks baru tersebut penting untuk diteliti.
Misalnya terdapat karakteristik peserta didik yang berbeda. Atau terdapat kondisi sosial, budaya, kelembagaan, atau kebijakan yang berbeda.
Dengan demikian, penelitian tidak hanya berpindah lokasi.
Penelitian menghasilkan pemahaman baru.
Inilah salah satu fungsi utama research gap.
…dan untuk memudahkan menemukannya, ia sebenarnya dapat dibangun dari beberapa sumber yang kita analisis.
Memahami jenis-jenisnya, itu jalan keluar yang tepat. Mari kita teruskan.
Jenis-Jenis Research Gap
Research gap dapat muncul dalam beberapa bentuk, dan ini beberapa jenis-jenis research gap itu:
#1. Knowledge Gap
Sama seperti arti knowledge, Knowledge gap muncul ketika ada pengetahuan tertentu yang belum tersedia.
Misalnya, penelitian tentang penggunaan AI dalam pembelajaran sudah banyak.
Tetapi belum banyak penelitian yang menjelaskan bagaimana mahasiswa memverifikasi informasi yang dihasilkan AI sebelum menggunakannya dalam tugas akademik.
Bagian yang belum diketahui tersebut dapat menjadi research gap.
#2. Empirical Gap
Empirical gap muncul ketika bukti empiris mengenai suatu fenomena masih terbatas.
Misalnya, beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan teknologi meningkatkan keterlibatan mahasiswa.
Penelitian lain menemukan hasil yang berbeda.
Perbedaan tersebut membutuhkan penjelasan lebih lanjut.
Di sinilah penelitian baru dapat dilakukan.
#3. Contradictory Findings
Penelitian terdahulu terkadang menghasilkan temuan yang tidak konsisten.
Penelitian A menemukan hubungan positif.
Penelitian B tidak menemukan hubungan.
Penelitian C menemukan hasil yang berbeda lagi.
Kondisi tersebut dapat menjadi research gap.
Bukan berarti salah satu penelitian harus dianggap salah.
Yang perlu dijelaskan adalah mengapa penelitian tersebut menghasilkan temuan yang berbeda.
#4. Methodological Gap
Methodological gap berkaitan dengan pendekatan atau metode penelitian.
Misalnya, sebagian besar penelitian tentang penggunaan AI menggunakan survei.
Survei dapat menunjukkan persepsi mahasiswa.
Tetapi survei belum tentu menjelaskan bagaimana mahasiswa menggunakan AI dalam proses belajar mereka.
Pendekatan kualitatif dapat digunakan untuk memahami pengalaman tersebut secara lebih mendalam.
#5. Contextual Gap
Contextual gap muncul ketika suatu fenomena belum cukup dipahami dalam konteks tertentu.
Misalnya, penelitian tentang AI banyak dilakukan pada perguruan tinggi umum.
Lalu bagaimana fenomena tersebut berlangsung dalam konteks perguruan tinggi keagamaan Islam?
Apakah terdapat pertimbangan nilai dan adab?
Apakah mahasiswa memiliki cara berbeda dalam memahami penggunaan AI?
Pertanyaan tersebut dapat membuka contextual gap.
#6. Theoretical Gap
Theoretical gap muncul ketika teori yang digunakan belum cukup menjelaskan fenomena tertentu.
Sebuah teori mungkin mampu menjelaskan suatu fenomena.
Tetapi ketika fenomenanya berubah, teori tersebut belum tentu cukup.
Peneliti kemudian dapat menguji, memperluas, atau menggabungkan perspektif teoretis tertentu.
Jika Anda sudah memahami jenis-jenisnya, akan lebih mudah dalam menemukannya.
Namun, Anda harus tahu bagaimana cara menemukannya, dan itulah yang akan dibahas berikutnya.
Cara Menemukan Research Gap
Menemukan research gap bukan berarti membaca satu artikel lalu mencari kelemahannya.
Anda perlu membaca beberapa penelitian. Kemudian membandingkannya.
Saya biasanya melihat prosesnya dengan sederhana:
Baca. Petakan. Bandingkan. Pertanyakan. Rumuskan.
Biarkan saya menjelaskan seluruh proses ini.
#1. Baca Penelitian Terdahulu
Jangan hanya membaca abstrak. Perhatikan tujuan penelitian. Lihat teori yang digunakan. Lihat metode penelitian. Perhatikan hasil dan pembahasannya.
Yang tidak kalah penting, lihat apa yang belum dijelaskan.
#2. Petakan Penelitian
Jangan membaca artikel secara terpisah.
Buat pemetaan sederhana.
| Penelitian | Fokus | Metode | Temuan |
|---|---|---|---|
| A | Penggunaan AI | Survei | AI meningkatkan efisiensi |
| B | Penggunaan AI | Survei | AI meningkatkan ketergantungan |
| C | Literasi AI | Wawancara | Mahasiswa kesulitan memverifikasi informasi |
Pemetaan seperti ini membantu kita melihat pola.
Kita dapat melihat persamaan atau perbedaan.
Dari sana, pertanyaan baru mulai muncul.
#3. Bandingkan Penelitian
Jangan berhenti pada ringkasan.
Bandingkan penelitian tersebut.
- Apa persamaannya?
- Apa perbedaannya?
- Mengapa hasilnya berbeda?
- Apa yang belum dibahas?
Pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar mengetahui siapa yang meneliti apa.
#4. Pertanyakan Literatur
Setelah membaca banyak penelitian, jangan langsung membuat kesimpulan.
Ajukan pertanyaan.
Apa yang belum diketahui?
Apa yang belum dijelaskan?
Mengapa hasil penelitian berbeda?
Apakah konteks penelitian sebelumnya terlalu terbatas?
Apakah metode yang digunakan belum mampu menjawab persoalan tertentu?
Apakah teori yang digunakan masih memiliki keterbatasan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu kita bergerak dari literature review menuju research gap.
Setelah menemukan gap, masalah berikutnya adalah bagaimana menuliskannya. Mari kita pelajari.
Cara Menulis Research Gap
Anda tidak harus membuatnya rumit.
Gunakan alur sederhana:
Apa yang sudah diketahui → apa yang belum diketahui → mengapa penting → apa yang dilakukan penelitian.
Misalnya:
Penelitian mengenai penggunaan AI dalam pendidikan telah menunjukkan bahwa teknologi tersebut dapat membantu mahasiswa memperoleh informasi dan menyelesaikan tugas akademik. Namun, sejumlah penelitian juga menunjukkan adanya persoalan dalam verifikasi informasi yang dihasilkan AI. Meskipun demikian, penelitian yang secara khusus mengkaji bagaimana mahasiswa melakukan verifikasi terhadap pengetahuan yang diperoleh dari AI masih terbatas. Persoalan ini penting dikaji karena penggunaan AI tidak hanya berkaitan dengan efisiensi, tetapi juga dengan kualitas proses epistemik dalam pembelajaran. Oleh karena itu, penelitian ini mengkaji bagaimana mahasiswa memverifikasi dan mempertanggungjawabkan informasi yang diperoleh melalui AI dalam penyelesaian tugas akademik.
Perhatikan alurnya.
Pertama, kita menjelaskan apa yang sudah diketahui.
Kemudian menunjukkan apa yang belum diketahui.
Setelah itu, kita menjelaskan mengapa persoalan tersebut penting.
Terakhir, kita menunjukkan apa yang akan dilakukan penelitian.
Itulah logika dasar penulisan research gap.
Contoh Research Gap dalam Penelitian
Misalnya Anda ingin meneliti penggunaan AI dalam Pendidikan Islam.
Jangan hanya menulis:
“Belum ada penelitian tentang penggunaan AI pada mahasiswa PAI di kampus X.”
Itu belum cukup.
Coba lihat penelitian terdahulu.
Misalnya sebagian besar penelitian membahas efektivitas AI dalam pembelajaran.
Penelitian lainnya membahas persepsi mahasiswa terhadap AI.
Penelitian yang lain membahas risiko plagiarisme dan ketergantungan terhadap AI.
Kemudian Anda menemukan bahwa aspek verifikasi pengetahuan yang dihasilkan AI dalam perspektif adab epistemik belum banyak dibahas.
Maka gap-nya menjadi lebih jelas.
Masalahnya bukan karena belum ada penelitian tentang AI. Penelitian tentang AI justru sudah banyak.
Masalahnya adalah ada aspek tertentu yang belum cukup dipahami.
Itulah research gap.
Research Gap dan Novelty: Apa Bedanya?
Research gap dan novelty sering dianggap sama.
Padahal keduanya berbeda.
Research gap menunjukkan apa yang masih kurang dalam pengetahuan yang tersedia.
Novelty menunjukkan kontribusi baru yang diberikan penelitian.
Sederhananya:
Research gap: Apa yang masih kurang?
Novelty: Apa yang baru dari penelitian saya?
Misalnya penelitian terdahulu sudah banyak membahas penggunaan AI dalam pembelajaran.
Tetapi aspek verifikasi pengetahuan AI dalam perspektif adab epistemik belum banyak dikaji.
Itulah gap.
Jika penelitian Anda kemudian menghasilkan pemahaman baru mengenai proses tersebut, kontribusi itulah yang dapat menjadi bagian dari novelty penelitian.
Kesalahan Umum dalam Menulis Research Gap
Sekarang, kita telah memahami tentang bagaimana menuliskannya.
Tetapi ada rantai yang semestinya anda hindari, dan saya merangkumnya dalam beberapa kesalahan umum dalam menulis research gap.
#1. Menganggap “Belum Pernah Diteliti” sebagai Gap
Ini kesalahan yang paling umum.
Belum ada penelitian bukan berarti tidak ada gap.
Sebaliknya, sudah banyak penelitian juga bukan berarti tidak ada gap.
Yang penting adalah melihat apa yang masih belum diketahui.
#2. Hanya Mencari Kelemahan Penelitian
Bagian limitations memang penting.
Tetapi jangan berhenti di sana.
Tanyakan apa konsekuensi dari keterbatasan tersebut terhadap pengetahuan yang tersedia.
#3. Menganggap Perbedaan Lokasi sebagai Novelty
Penelitian di kampus A kemudian dilakukan di kampus B.
Itu belum otomatis memberikan kontribusi baru.
Jelaskan mengapa konteks B penting.
#4. Membuat Gap Secara Paksa
Jangan menentukan topik terlebih dahulu lalu memaksakan literatur untuk membenarkannya.
Penelitian memang tidak selalu berjalan secara linear.
Tetapi secara logis, gap harus mampu menjelaskan mengapa penelitian tersebut layak dilakukan.
Kesimpulan
Research gap adalah bagian penting dalam membangun argumen penelitian.
Ia menunjukkan adanya sesuatu yang masih belum diketahui, belum dijelaskan, belum konsisten, atau belum dipahami dengan memadai.
Karena itu, research gap bukan sekadar kelemahan penelitian terdahulu.
Dan bukan pula sekadar pernyataan bahwa penelitian Anda belum pernah dilakukan.
Mulailah dengan membaca penelitian terdahulu.
Petakan temuan mereka. Bandingkan.
Kemudian pertanyakan apa yang masih tersisa. Dari sana, rumuskan gap.
Setelah itu, jelaskan bagaimana penelitian Anda mengisi bagian tersebut.
Pada akhirnya, research gap bukan sekadar satu paragraf dalam proposal penelitian.
Ia adalah alasan ilmiah mengapa penelitian Anda perlu dilakukan.