Penyebab Umum Mata Kering dan Dampaknya: Apa Kata Riset?

Photo of author
Reza Noprial Lubis
Update

Malam itu, di tengah revisi terakhir proposal riset saya, mata saya tiba-tiba terasa perih dan seperti mengganjal.

Saat itu saya cuma berpikir: ini gara-gara begadang. Tapi belakangan, saat saya coba telusuri literaturnya sebagai akademisi, ternyata penyebabnya jauh lebih kompleks dari sekadar “kurang tidur”.

Mata kering atau dry eye disease, bukan gangguan sepele. Secara global, kondisi ini disebut memengaruhi sekitar 5 hingga 34 persen populasi dunia, tergantung wilayah dan metode penelitiannya, seperti dirangkum dalam tinjauan pustaka di jurnal Continuing Medical Education (CDK).

Pertanyaannya: apa sebenarnya yang membuat mata kita jadi kering? Dan kenapa dampaknya sering diremehkan?

Dua Mekanisme Dasar di Balik Mata Kering

Secara medis, mata kering tidak muncul dari satu sebab tunggal.

Menurut definisi Tear Film and Ocular Surface Society (TFOS DEWS II) yang dirangkum dalam StatPearls (NCBI), gangguan ini terjadi akibat hilangnya keseimbangan lapisan air mata, disertai ketidakstabilan tear film dan peradangan pada permukaan mata.

TFOS-DEWS-II-Epidemiology-Report

Secara garis besar, penyebabnya terbagi jadi dua kelompok besar:

  • Produksi air mata yang berkurang (aqueous deficient), kelenjar air mata tidak menghasilkan cukup cairan.
  • Penguapan air mata yang berlebihan (evaporative), air mata diproduksi cukup, tapi menguap terlalu cepat, biasanya karena gangguan kelenjar Meibom di kelopak mata.

Sebagian orang bahkan mengalami keduanya sekaligus. Itu sebabnya, menurut kajian di jurnal Intisari Sains Medis, mata kering tergolong penyakit multifaktorial yang tidak bisa disederhanakan jadi satu akar masalah saja.

Tapi dari sekian banyak faktor, ada satu penyebab yang paling relevan dengan keseharian saya sebagai dosen dan peneliti.

Screen Time: Musuh Diam-Diam di Balik Layar

Setiap hari, waktu saya banyak habis di depan layar. Menulis artikel jurnal, mengoreksi tugas mahasiswa, riset literatur, sampai rapat daring.

Ternyata, ini bukan kebiasaan yang aman untuk mata.

Artikel dari JEC Eye Hospitals mengutip penelitian yang termuat di National Library of Medicine, yang menemukan gejala mata kering parah lebih umum dialami orang dengan waktu layar elektronik lebih dari empat jam sehari. Artikel yang sama juga menyebut durasi screen time masyarakat Indonesia lewat ponsel disebut sebagai salah satu yang terpanjang di dunia.

Secara mekanisme, ini masuk akal. Saat kita fokus menatap layar, frekuensi berkedip menurun drastis. Padahal, berkedip adalah cara alami mata meratakan ulang lapisan air mata, dan bila frekuensinya turun, penguapan air mata pun meningkat, persis seperti dijelaskan pada laman edukasi Rumah Sakit Permata.

Saya mengalami sendiri efeknya. Sepekan menjelang tenggat proposal riset, screen time saya melonjak jauh di atas rata-rata harian. Mata SEpet, PErih, dan LElah muncul berurutan, sampai saya sempat berhenti mengetik hanya untuk memejamkan mata sejenak.

Tapi screen time bukan satu-satunya faktor yang perlu diwaspadai.

Usia, Hormon, dan Kondisi Medis yang Sering Terlewat

Selain kebiasaan digital, ada faktor lain yang justru lebih sulit dikendalikan: usia dan kondisi tubuh.

Sebuah penelitian tahun 2001 yang dikutip oleh National Eye Center mencatat, sekitar 27,5 persen penduduk Indonesia usia lanjut mengalami sindrom mata kering, dengan prevalensi lebih tinggi pada perempuan pascamenopause.

Di sisi lain, ulasan etiologi dari Alomedika menjelaskan bahwa sejumlah penyakit sistemik seperti sindrom Sjögren, rheumatoid arthritis, hingga gangguan tiroid, turut berkontribusi menurunkan produksi air mata. Bahkan beberapa obat umum, seperti antihistamin dan obat antihipertensi tertentu, disebut punya efek samping serupa.

Artinya, mata kering bukan cuma soal “kebanyakan mantengin HP”. Faktor internal tubuh kita juga ikut bermain.

Lalu, apa yang terjadi kalau gejala-gejala ini terus dibiarkan?

Dampak yang Sering Diremehkan

Ini bagian yang menurut saya paling penting untuk disadari sesama akademisi dan pekerja layar.

Menurut JEC Eye Hospitals, penderita mata kering umumnya punya lebih dari satu faktor penyebab yang bekerja bersamaan. Kalau tidak ditangani secara menyeluruh, gejalanya bisa terus berulang dan mengganggu, bahkan berisiko merusak permukaan mata dalam jangka panjang.

Dari pengalaman pribadi saya, dampaknya juga terasa di sisi produktivitas. Saat mata perih dan lelah, saya jadi lebih sering berhenti membaca dan mengetik. Padahal waktu adalah hal yang paling berharga ketika sedang mengejar tenggat penting, seperti proposal riset atau naskah jurnal.

Di sinilah saya belajar satu hal: gejala mata SEpet, PErih, LElah itu tidak boleh disepelekan, sekecil apa pun terasa di awal.

Langkah Awal yang Bisa Dilakukan

Saya bukan dokter mata, jadi bagian ini saya susun murni sebagai rangkuman dari apa yang tertulis di berbagai sumber yang saya baca, bukan rekomendasi medis pribadi. Untuk gejala ringan sehari-hari akibat screen time, berikut beberapa langkah yang umum disebutkan dalam literatur tersebut:

  • Terapkan aturan 20-20-20: setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan ke objek sejauh 20 kaki (sekitar 6 meter) selama 20 detik. Rekomendasi ini banyak dirujuk oleh organisasi profesi mata seperti American Academy of Ophthalmology, meski menurut ulasan Alomedika, bukti ilmiah spesifik soal efektivitas angka “20-20-20” itu sendiri masih tergolong terbatas dibanding prinsip umum “istirahatkan mata secara berkala”.
  • Sadari dan tingkatkan frekuensi berkedip saat bekerja di depan layar. Menurut penjelasan Rumah Sakit Permata, frekuensi berkedip menurun drastis saat mata fokus menatap layar, sehingga lapisan air mata lebih cepat menguap dan memicu gejala kering.
  • Atur jarak dan pencahayaan layar agar tidak terlalu dekat atau terlalu terang, terutama di malam hari. Panduan dari Universitas Putera Batam menyarankan posisi layar sejajar mata dengan jarak lebih dari 45 sentimeter, karena posisi layar yang terlalu rendah disebut dapat mempercepat mata menjadi kering.
  • Pertimbangkan tetes mata yang diformulasikan khusus untuk gejala mata kering, seperti INSTO DRY EYES, saat gejala SEpet, PErih, atau LElah mulai muncul. Namun, bila gejala menetap atau memburuk, tetap disarankan berkonsultasi ke dokter mata untuk penanganan yang sesuai.

Saya sendiri baru benar-benar disiplin menerapkan poin-poin di atas setelah mengalami sendiri bagaimana mata kering bisa mengganggu momen penting saya menyelesaikan proposal riset. Sejak itu, tetes mata jadi bagian dari rutinitas kerja saya, bukan cuma solusi darurat, meski tentu saja, saya menulis ini dari sudut pandang akademisi yang belajar dari literatur, bukan tenaga medis.

Waktu itu, saya sempat mencari tahu dulu sebelum memutuskan memakai Insto Dry Eyes. Di halaman produk resminya, insto.co.id menjelaskan bahwa Insto Dry Eyes mengandung bahan aktif Hydroxypropyl Methylcellulose yang bekerja memberikan efek pelumas seperti air mata, sekaligus membantu meringankan iritasi akibat kekurangan produksi air mata.

Karena keluhan saya saat itu persis seperti yang disebutkan di sana, mata sepet dan perih akibat jarang berkedip selama menatap layar, saya merasa cukup relevan untuk dicoba.

Penutup

Sebagai akademisi dan peneliti, saya sadar betul betapa mudahnya screen time berlebihan jadi bagian dari rutinitas kerja kita dan betapa mudahnya kita mengabaikan sinyal kecil dari tubuh sendiri.

Riset menunjukkan penyebab mata kering memang beragam, dari kebiasaan digital, faktor usia, hormon, hingga kondisi medis tertentu. Tapi satu hal yang pasti: gejalanya tidak boleh dianggap remeh.

Kalau Anda mulai merasakan gejala #MataSePeLeJanganSepelein seperti yang saya alami, jangan tunggu sampai benar-benar mengganggu momen penting Anda. Segera tetesin Insto Dry Eyes, dan mulai perhatikan kebiasaan layar Anda sehari-hari.

Karena pada akhirnya, menjaga kesehatan mata sama pentingnya dengan mengejar pencapaian yang sedang kita perjuangkan, sesuai semangat kampanye #InstoDryEyes #BebasMataKering.

Tinggalkan komentar