Belakangan ini, istilah Assoc Prof semakin mudah ditemukan dalam profil akademik dosen di Indonesia. Nama dosen, laman perguruan tinggi, konferensi, hingga berbagai profil akademik mulai akrab dengan singkatan tersebut.
Assoc Prof memang terdengar ringkas, modern, dan internasional. Namun, ada satu pertanyaan sederhana yang menarik untuk diajukan: mengapa istilah ini begitu populer di Indonesia?
Apakah semata-mata karena merupakan nomenklatur resmi dalam bahasa Inggris? Ataukah istilah tersebut juga telah berkembang menjadi semacam simbol prestise akademik?
Untuk menjawabnya, kita perlu kembali terlebih dahulu pada persoalan yang lebih mendasar: sebenarnya, siapa yang disebut Associate Professor dalam sistem pendidikan tinggi Indonesia?
Apa Itu Assoc Prof?
Assoc Prof merupakan singkatan dari Associate Professor. Dalam sistem akademik berbahasa Inggris, istilah ini lazim digunakan untuk menunjukkan salah satu jenjang jabatan akademik dosen.
Dalam konteks Indonesia, penggunaan istilah tersebut bukan sekadar terjemahan bebas. Pemerintah telah menetapkan penyebutan jabatan akademik dosen dalam bahasa Inggris melalui Keputusan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Nomor 164/M/KPT/2019 tentang Penyebutan Jabatan Akademik Dosen dalam Bahasa Inggris.
Dalam ketentuan tersebut, Lektor Kepala disebut sebagai Associate Professor. Sementara itu, Guru Besar disebut Professor atau Full Professor.
Dengan demikian, penggunaan Assoc Prof oleh seorang dosen yang memiliki jabatan Lektor Kepala pada dasarnya memiliki landasan nomenklatur.
Jadi, persoalannya bukan apakah Assoc Prof boleh digunakan.
Persoalan yang lebih menarik justru muncul setelah kita melihat jenjang di bawahnya.
Kalau Lektor Kepala Assoc Prof, Lalu Lektor Apa?
Di sinilah nomenklatur akademik Indonesia menjadi menarik.
Menurut Keputusan Menteri tersebut, pemetaan jabatan akademik dosen dalam bahasa Inggris adalah sebagai berikut:
| Dosen belum punya jabatan akademik | Lecturer |
| Asisten Ahli | Asistant Professor |
| Lektor | Asistant Professor |
| Lektor Kepala | Associate Professor |
| Guru Besar | Professor atau Full Professor |
Artinya, ada sesuatu yang mungkin tidak terlalu banyak disadari.
Lektor bukan Associate Professor menurut nomenklatur tersebut.
Lektor justru disebut Assistant Professor.
Dengan kata lain, seorang dosen dengan jabatan Lektor secara nomenklatur bahasa Inggris dapat menggunakan Assistant Professor atau bentuk singkatnya, Asst Prof.
Nah, dari sinilah pertanyaan yang lebih menarik mulai muncul.
Jika Assoc Prof begitu populer, mengapa Asst Prof justru relatif jarang terlihat?
Di Mana Asst Prof?
Coba perhatikan berbagai profil akademik di Indonesia.
Istilah Assoc Prof relatif mudah ditemukan. Namun, istilah Asst Prof tidak selalu memiliki visibilitas yang sama.
Padahal secara nomenklatur, keduanya merupakan bagian dari satu struktur yang sama.
Assistant Professor → Associate Professor → Professor.
Dalam konteks Indonesia, struktur tersebut dipetakan menjadi:
Asisten Ahli/Lektor → Lektor Kepala → Guru Besar.
Dengan demikian, jika seorang Lektor Kepala memperkenalkan dirinya sebagai Assoc Prof, hal tersebut sesuai dengan nomenklatur bahasa Inggris yang telah ditetapkan.
Namun, jika seorang Lektor menggunakan Asst Prof, itu juga bukan sesuatu yang lebih rendah secara nomenklatur. Justru itulah padanan bahasa Inggris yang ditetapkan untuk jabatan Lektor.
Lalu mengapa kita lebih sering menemukan yang pertama daripada yang kedua?
Di titik inilah nomenklatur mulai bersinggungan dengan persepsi.
Apakah Assoc Prof Telah Menjadi Simbol Prestise?
Tentu tidak adil untuk menyimpulkan bahwa setiap orang yang menggunakan Assoc Prof sedang mengejar prestise. Banyak dosen menggunakannya semata-mata karena memang itulah nomenklatur bahasa Inggris untuk Lektor Kepala.
Namun, fenomenanya tetap menarik untuk dibicarakan.
Dalam komunikasi akademik, sebuah jabatan tidak hanya berfungsi sebagai informasi administratif. Jabatan juga dapat menjadi bagian dari identitas profesional seseorang.
Istilah Associate Professor memiliki resonansi internasional yang kuat. Bagi pembaca yang terbiasa dengan sistem akademik berbahasa Inggris, istilah tersebut langsung menunjukkan posisi tertentu dalam hierarki akademik.
Karena itu, ketika Assoc Prof semakin sering digunakan dalam ruang publik akademik Indonesia, muncul pertanyaan yang sah untuk diajukan:
Apakah kita sedang menggunakan nomenklatur, atau sedang membangun identitas akademik?
Mungkin jawabannya bukan salah satu. Bisa jadi keduanya berlangsung bersamaan.
Dan justru karena itulah fenomena ini menarik.
Tetapi ada satu hal lagi yang lebih menggelitik.
Mengapa Asst Prof Tidak Se-populer Assoc Prof?
Jika penggunaan Assoc Prof dianggap wajar karena merupakan nomenklatur bahasa Inggris untuk Lektor Kepala, maka secara logika nomenklatur yang sama seharusnya berlaku terhadap jabatan di bawahnya.
Asisten Ahli dan Lektor sama-sama memiliki penyebutan Assistant Professor.
Namun, dalam praktik, singkatan Asst Prof tampaknya tidak memiliki popularitas yang sebanding dengan Assoc Prof.
Di sinilah kita perlu berhati-hati.
Fenomena tersebut belum cukup untuk membuktikan bahwa dosen menggunakan Assoc Prof karena alasan prestise. Diperlukan penelitian empiris untuk mengetahui faktor yang sebenarnya memengaruhi pilihan nomenklatur tersebut.
Bisa saja faktor tersebut berupa kebiasaan institusi, pengaruh profil akademik internasional, kebutuhan komunikasi dengan pembaca asing, ketidaktahuan terhadap nomenklatur resmi, atau memang persepsi terhadap status akademik.
Tanpa data, kita tidak seharusnya memilih salah satunya sebagai kesimpulan.
Tetapi pertanyaannya tetap menarik untuk diajukan.
Assoc Prof Boleh, Asst Prof Juga Boleh
Karena itu, pembicaraan tentang Assoc Prof di Indonesia sebaiknya tidak diarahkan pada pertanyaan sederhana: “boleh atau tidak?”
Untuk Lektor Kepala, nomenklatur bahasa Inggris yang ditetapkan adalah Associate Professor.
Untuk Lektor, nomenklatur yang ditetapkan adalah Assistant Professor.
Untuk Asisten Ahli, nomenklatur yang ditetapkan juga Assistant Professor.
Dengan demikian, persoalannya bukan memilih istilah yang terdengar lebih tinggi.
Persoalannya adalah menggunakan nomenklatur sesuai dengan jabatan yang sebenarnya dimiliki.
Seorang Lektor tidak perlu menjadi Assoc Prof agar terlihat internasional. Ia sudah memiliki padanan internasional yang ditetapkan: Assistant Professor.
Begitu pula Lektor Kepala tidak perlu menghindari istilah Assoc Prof hanya karena terdengar lebih internasional. Justru nomenklatur tersebut memang telah ditetapkan untuk jabatan tersebut.
Menariknya, sampai di sini kita menemukan sesuatu yang agak paradoks.
Masalahnya Bukan pada Assoc Prof
Assoc Prof sebenarnya bukan masalah.
Yang menarik adalah ketika sebuah nomenklatur menjadi jauh lebih populer daripada nomenklatur lain yang berada dalam sistem yang sama.
Jika Lektor Kepala disebut Associate Professor, maka Lektor disebut Assistant Professor. Keduanya merupakan bagian dari struktur nomenklatur yang telah ditetapkan.
Karena itu, tidak ada alasan untuk memandang Asst Prof sebagai nomenklatur yang “kurang akademik” hanya karena posisinya berbeda dari Assoc Prof.
Justru perbedaan itulah yang menunjukkan jenjang jabatan akademik.
Dengan kata lain:
Asst Prof bukan versi gagal dari Assoc Prof.
Ia adalah nomenklatur yang berbeda untuk jabatan yang berbeda.
Dan mungkin, inilah bagian yang selama ini terlewat dalam perbincangan tentang penggunaan gelar akademik berbahasa Inggris di Indonesia.
Jangan Sampai Singkatan Lebih Penting daripada Jabatan
Dalam dunia akademik, jabatan bukan sekadar singkatan yang ditempatkan di depan nama.
Di baliknya terdapat tanggung jawab, rekam jejak, kualifikasi, kewenangan akademik, serta proses panjang yang menyertai kenaikan jabatan.
Karena itu, penggunaan Assoc Prof atau Asst Prof seharusnya tidak berhenti pada bagaimana sebuah nama terlihat di halaman profil.
Yang lebih penting adalah apakah nomenklatur tersebut merepresentasikan jabatan akademik yang benar.
Kalau nomenklatur memang digunakan untuk menjelaskan posisi akademik kepada masyarakat internasional, maka konsistensi menjadi penting.
Kalau Lektor Kepala adalah Assoc Prof, maka Lektor adalah Asst Prof.
Sederhana.
Tetapi justru karena sederhana itulah fenomenanya menjadi menarik.
Jadi, Assoc Prof Itu Nomenklatur atau Prestise?
Jawabannya: bisa menjadi keduanya, tetapi tidak boleh dicampuradukkan.
Sebagai nomenklatur, Associate Professor memiliki dasar yang jelas dalam sistem penyebutan jabatan akademik Indonesia. Lektor Kepala memang disebut demikian dalam bahasa Inggris.
Sebagai identitas profesional, penggunaannya tentu dapat memiliki makna yang lebih luas. Namun, makna sosial dan persepsi prestise tersebut merupakan persoalan yang berbeda dari status nomenklaturnya.
Yang perlu dijaga adalah jangan sampai prestise sebuah istilah mengalahkan ketepatan jabatan yang diwakilinya.
Sebab pada akhirnya, kualitas seorang akademisi tidak ditentukan oleh apakah namanya diawali Asst Prof, Assoc Prof, atau Prof.
Singkatan hanya memberi tahu kita tentang jabatan.
Yang membuat seorang akademisi bernilai adalah apa yang ia kerjakan setelah singkatan itu.
Dan mungkin, setelah membaca ini, setiap kali kita melihat tulisan Assoc Prof di depan nama seorang dosen Indonesia, kita tidak perlu buru-buru bertanya, “Kok pakai Assoc Prof?”
Pertanyaan yang lebih menarik justru:
“Kalau dia Assoc Prof, lalu siapa Asst Prof-nya?”
Barangkali, di situlah letak fenomena yang sebenarnya.