Dua hari lagi, proposal penelitian saya untuk hibah bergengsi nasional Kemenag-LPDP harus sudah terkirim. Di layar laptop, masih ada banyak bagian yang perlu dibaca ulang, memastikan tidak ada kesalahan data maupun redaksional yang lolos.
Saya coba fokus. Tapi mata saya terasa gatal dan seperti ada yang mengganjal, sesuatu yang sebenarnya sering saya rasakan tiap kali kerja lama di depan layar, tapi malam itu terasa lebih mengganggu dari biasanya. Saya mengucek sebentar, mengedip beberapa kali, lalu melanjutkan membaca. Waktu tidak banyak.
Saya tidak tahu, ini baru permulaan dari masalah yang jauh lebih besar.
Minggu-Minggu yang Saya Anggap Remeh
Beberapa minggu sebelum malam itu, rutinitas saya memang berubah cukup drastis. Saya jadi jauh lebih sering duduk berjam-jam di depan laptop, menyusun latar belakang penelitian, merapikan metodologi, mengecek ulang anggaran, merevisi draf sesuai masukan pembimbing.
Di sela-sela itu, sesekali muncul rasa mata sepet, semacam sensasi berpasir yang ringan dan familiar, jenis keluhan yang mungkin hampir semua orang pernah rasakan setelah lama menatap layar. Karena terasa biasa, saya cuma mengucek sebentar dan melanjutkan pekerjaan tanpa pikir panjang.
Saya pikir itu cuma capek biasa. Saya salah.
Ketika Layar Mulai “Melawan” Saya
Yang tadinya cuma rasa sepet ringan sesekali, lama-kelamaan berubah jadi lebih sering muncul, dan puncaknya justru datang di hari-hari paling krusial, menjelang tenggat pengumpulan proposal.
Mata saya lebih gampang terasa perih dan lelah, apalagi saat harus membaca referensi dengan font kecil sampai larut malam. Baris-baris kalimat di layar sesekali terlihat sedikit buram, sampai saya harus mengulang membaca beberapa bagian yang sama. Rasanya sepele, tapi cukup mengganggu konsentrasi saat harus teliti mengecek detail penting seperti angka anggaran.
Belakangan saya tahu, keluhan seperti ini sebenarnya sangat umum, dan sudah banyak diteliti secara ilmiah. Sekelompok gangguan mata akibat penggunaan komputer atau smartphone dalam waktu lama dikenal sebagai Computer Vision Syndrome (CVS), dan salah satu keluhan yang paling sering muncul adalah mata kering, salah satunya disebabkan oleh menurunnya frekuensi berkedip saat menatap layar.
Penelitian Ibrahim dkk1, bahkan menemukan bahwa durasi penggunaan layar yang lama merupakan faktor yang signifikan secara statistik terhadap munculnya gejala mata kering, dengan mata kering derajat berat ditemukan pada lebih dari separuh responden yang menggunakan layar lebih dari 8 jam sehari.
Sementara itu, tinjauan epidemiologi internasional yang diterbitkan di The Ocular Surface menegaskan bahwa penggunaan komputer termasuk salah satu faktor risiko yang sudah cukup tersubstansiasi bagi munculnya dry eye disease, dengan prevalensi dry eye secara global bervariasi antara 5-50% tergantung kriteria diagnostik yang digunakan, dan etnis Asia secara konsisten menunjukkan prevalensi yang lebih tinggi dibanding etnis lain.
Saat itu saya sadar, kalau saya terus mengabaikan hal “sepele” ini, semua kerja keras saya bisa terganggu justru di momen paling penting.
Yang Saya Lakukan Setelah Itu
Malam itu, saya akhirnya berhenti sejenak dan mulai mencari cara untuk lebih nyaman bekerja di depan layar. Beberapa hal sederhana yang saya terapkan, dan sekarang jadi kebiasaan tetap:
- Menerapkan aturan 20-20-20: setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan ke objek berjarak sekitar 6 meter selama 20 detik, untuk memberi jeda pada mata;2
- Mengatur jarak dan pencahayaan layar: menjaga jarak layar sekitar 50-70 cm dari wajah dan memastikan ruangan cukup terang, untuk mengurangi ketegangan mata;3
- Sadar untuk berkedip lebih sering: karena secara alami kita jadi jarang berkedip saat fokus di layar, saya mulai membiasakan diri berkedip penuh secara sadar setiap beberapa menit.
- Menyediakan tetes mata pelembap di meja kerja, untuk pertolongan cepat saat mata mulai terasa tidak nyaman di tengah pekerjaan.
Empat kebiasaan kecil ini yang membantu saya tetap produktif dan #BebasMataKering meski harus berjam-jam di depan layar.
…dan di malam itu jugalah, saya menemukan satu hal kecil yang ternyata cukup membantu.
Saya teringat INSTO DRY EYES, obat tetes mata yang sering saya lihat di apotek dan sudah dikenal luas untuk meredakan keluhan mata sehari-hari seperti sepet, perih, dan lelah. Sejak malam itu, #InstoDryEyes jadi bagian dari perlengkapan wajib saya setiap kali harus begadang menyusun tulisan panjang.
Nada malam itu perlahan berubah, dari sedikit tegang, menjadi lebih tenang. Saya masih punya waktu, dan mata saya sudah jauh lebih bersahabat.
Dan Proposal Itu… Lolos
Saya lanjutkan pengecekan halaman demi halaman malam itu dengan mata yang jauh lebih nyaman. Dua hari kemudian, tepat sebelum tenggat, proposal saya terkirim, lengkap, tanpa kesalahan berarti yang sempat saya khawatirkan.
Beberapa minggu setelahnya, kabar yang saya nantikan pun datang: proposal saya lolos, dan saya resmi menerima hibah penelitian bergengsi nasional dari Kemenag-LPDP.
Kalau diingat-ingat lagi, yang paling membekas dari proses itu justru bukan soal metodologi atau anggaran penelitian, melainkan betapa keluhan mata yang sebenarnya ringan dan umum seperti sepet, perih, atau lelah, bisa jadi cukup mengganggu kalau terus dibiarkan, apalagi di momen yang sedang genting-gentingnya. Makanya, #MataSePeLeJanganSepelein, sekecil apa pun gejalanya.
Jadi, kalau kamu sedang mengejar sesuatu yang penting seperti skripsi, proposal, atau pekerjaan apa pun yang menuntutmu menatap layar berjam-jam, jangan anggap remeh gejala mata yang mungkin terasa “biasa saja”. Kenali sejak dini, beri jeda yang cukup, dan kalau mata mulai sepet, perih, atau lelah, Tetesin Insto Dry Eyes supaya kembali nyaman.
Referensi
- Ibrahim, N. A. ., Aldy, F. ., Samosir, F. A. H. H., Amin, M. M., Lubis, H. P., & Ashadi, M. R. T. (2026). PREVALENCE OF DRY EYE LINKED TO SCREEN TIME: A CROSS-SECTIONAL STUDY IN MEDICAL STUDENTS: Prevalensi Dry Eye dan Hubungannya dengan Paparan Layar Digital: Sebuah Penelitian Cross-sectional Pada Mahasiwa Kedokteran . Jurnal Berkala Epidemiologi, 14(2), 150–157. https://doi.org/10.20473/jbe.V14I22026.150-157 ↩︎
- ANTARA News. “Menatap layar terlalu lama sebabkan mata kering, ini penjelasan dokter.” https://www.antaranews.com/berita/3641127/menatap-layar-terlalu-lama-sebabkan-mata-kering-ini-penjelasan-dokter ↩︎
- KlikDokter. “5 Efek Menatap Layar Laptop Terlalu Lama bagi Mata.” https://www.klikdokter.com/info-sehat/mata/efek-menatap-layar-laptop-terlalu-lama-bagi-kesehatan-mata ↩︎