Sejarah Berdirinya Dinasti Umayyah

Berbicara soal sejarah berdirinya dinasti Umayyah, tentu memiliki beberapa hal yang menjadi catatan tertentu.

Untuk mengulas persoalan ini, ada poin penting yang perlu diketahui, yaitu:

  • Latar belakang berdirinya dinasti Umayyah
  • Sejarah berdirinya Dinasti Umayyah

Mari ikuti penjelasan berikut ini hingga usai untuk mengetahuinya lebih lanjut.

Sejarah Berdirinya Dinasti Umayyah

Sejarah berdirinya dinasti Umayyah tidak terlepas dari sebuah peristiwa yang merupakan peristiwa penting, yaitu Ammul Jamaah (perdamaian Umat Islam) di Kota Maskin, berdekatan dengan Madam Kuffah tahun 41 H/ 661 M pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib.

Kemudian semasa pemerintahan Islam dipegang oleh Hasan bin Ali yang sangat singkat, membuat ini menjadi salah satu latar belakang berdirinya dinasti Umayyah ini.

Yang bisa di ambil dari kejadian semasa pemerintahan Hasan bin Ali ini adalah adanya peralihan sistem pemerintahan yang sebelumnya bersifat demokratis, kini beralih menjadi monarki.

Khalifah Usman bin Affan wafat karena dibunuh oleh AL-Ghofiqy pada tahun 35H/ 656M.

Lalu kemudian beberapa sahabat besar, meminta agar Ali bin Abi Thalib menggantikan posisi Khalifah Usman bin Affan kala itu.

Beberapa sahabat besar yang mendorong itu antara lain seperti Talhah bin Ubaidilah, Zubair bin Awwan.

Mereka mendorong Ali bin Abi Tholib agar mengisi kekosongan kepemimpinan kala itu.

Pada akhirnya, setelah melakukan pertimbangan rasional, Ali bin Abi Tholib pun bersedia dan menyetujui permintaan para sahabat itu.

Maka terjadilah baiat kepada Ali bin Abi Thalib beserta para pendukungnya pada tanggal 18 Dzulhijjah 35 H/ 17 Juni 656 M.

Sebahagian besar kaum muslimin memberi dukungan atas kepemimpinan Ali bin Abi Thalib dan mengakui bahwa Ali bin Abi Thalib adalah khalifah keempat yang sah.

Sementara, Muawiyah bin Abu Sofyan yang menjabat sebagai gubernur di Syiria, dan Marwan bin Hakam yang menjabat sekretaris pada masa Usman bin Affan, menolak kepemimpinan Ali bin Abi Thalib meskipun kaum muslimin mendukung itu.

Atas penolakan ini, ternyata berbuntut panjang sehingga menyebabkan terjadinya perang Siffin pada tahun 38 H/ 657 M, yaitu perang antara pendukung Ali dan Muawiyah bin Abu Sofyan.

Alasan Muawiyah bin Abu Sofyan menolak kepemimpinan Ali bin Abi Thalib adalah karena:

  1. Agar mencari pembunuh dan mengusut tuntas pembunuhan Usman bin Affan terlebih dahulu.
  2. Karena munculnya isu pergantian Gubernur besar-besaran yang akan dilakukan oleh khalifat Ali bin Abi Thalib, terutama gubernur pada masa khalifah Usman bin Affan, dan muawiyah pada saat itu juga menjabat sebagai Gubernur di Syam (Syria). Ini karena dirinya diangkat oleh Usman bin Affan.

Kedua alasan itu menjadi dalih dari Muawiyah bin Abu Sofyan untuk tidak setuju atau menolak kepemimpinan Ali bin Abi Thalib.

Sementara khalifah Ali bin Abi Thalib menganggap situasi saat ini masih kurang baik dan kurang rasional bila mengusut tuntas pembunuhan Usman bin Affan itu, karena saat ini umat Islam masih dalam keadaan berduka.

Ia juga menganggap persoalan ini sangatlah komplek dan tidak ingin ada resiko dalam penanganan kasus ini.

Muncullah isu yang mengatakan bahwa khalifah Ali bin Abi Thalib ingin mengambil keuntungan politik dari lambatnya penyelesaian kasus pembunuhan Usman bin Affan itu.

Muncul juga isu bahwa khalifah Ali bin Abi Thalib ingin memperlambat pengusutan kasus pembunuhan itu.

Dan yang paling hebat, muncul tuduhan bahwa Ali bin Abi Thalib memiliki kaitan atas terbunuhnya Usman bin Affan.

Padahal justru ketika terjadi pengepungan, hanya Hasan dan Husein lah yang melindungi Khalifah Usman bin Affan.

Sebaliknya, para pembesar istana dari kalangan Usman dan Bani Umayyah justru meninggalkan khalifah dan menyelamatkan diri sendiri.

Tinggalkan komentar