Riwayat Hidup Muhammad Bin Abdul Wahab

Muhammad Bin Abdul Wahab

Muhammad Bin Abdul Wahab adalah seorang ahli teologi Islam. Ia meninggal pada usia 88/89 tahun. Ini yang kerap kali disebut sebagai pemurnian Islam.

Ada beberapa hal yang perlu diketahui tentangnya, yakni berupa biografi atau riwayat hidup Muhammad Bin Abdul Wahab, pemikiran Muhammad Bin Abdul Wahab, dan lain sebagainya

Ikuti penjelasan ini hingga usai.

Riwayat Hidup Muhammad Bin Abdul Wahab

Muhammad bin Abdul wahab lahir di Nejed arab Saudi tahun 1703 M dan wafat pada tahun 1787 di Uyanah, daerah Nejd Saudi Arabia. Beliau bernama lengkap Muhammad bin Abdul Wahab ibn Sulaiman ibn Ali bin Muhammad bin Rasyid ibn Rasyid ibn Bari ibn Musyarif ibn Umar ibn Muanad Rais ibn Zhahir ibn Ali Ulwi ibn Wahab (Asmuni, 1998: 58).

Semenjak kecil Muhammad bin Abdul wahab sangat tertarik pada agama. Pada masa usianya baru mencapai 10 tahun, ia telah mampu menghafal Al-Qur’an dibawah asuhan ayahnya yang pada waktu itu adalah seorang Qadi di Uyanah, sebuah daerah di Nejd. Pada waktu itu dimasa pemeririntahan Muhammad bin Muammar dan ayahnya juga mengajar fiqih dan hadis di masjid kota tersebut (Mufrodi, 1997: 152).

Adapun mazhab yang dianut oleh beliau adalah mazhab Imam Hambali Rahimahullah, tidak seperti yang dituduhkan kepada beliau oleh orang-orang yang memusuhi beliau, yang nengatakan bahwasannya ibn Abdul wahab membuat mazhab tersendiri dalam arti kata mazhab kelima. Setelah merasa cukup menimba Ilmu kepada ayahnya, Setelah mencapai usia dewasa, Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab diajak oleh ayahnya untuk bersama-sama pergi ke tanah suci Mekah untuk menunaikan rukun Islam yang kelima – mengerjakan haji ke Baitullah. Ketika telah selesai menunaikan ibadah haji, ayahnya kembali ke Uyainah sementara Muhammad bin Abdul Wahhab tetap tinggal di Mekah, kemudian Muhammad bin Abdul wahab mengebara ke Madinah guna menambah khazanah keilmuannya.

Di Madinah, Muhammad bin Abdul wahab berguru kepada Sulaiman Al-Kurdi dan Muhammad Hayat Al-Sind, setelah itu terus ke Basrah. Di Basrah ia mulai menjalankan fahamnya yang keras dan menantang segala pendapat dan segala amal yang dianggap bertentangan dengan ajaran salaf setelah ia menjumpai penyimpangan-penyimpangan yang dianggapnya bertentangan dengan faham salaf yang diilhami dari buku-buku Ibnu Tamiyah. Muhammad bin Abdul Wahab sangat menghargai Syaikul Islam Ibnu Taimiyah sehingga ia hanya memakai karya-karya Ibnu taimiyah saja dan melecehkan karya-karya ulama terdahulu yang lain. Hal ini senada dengan apa yang dinyatakan oleh Sulayman, kakak kandungnya sendiri dalam risalahnya ia mengatakan bahwa ‘Abd al-Wahhab tidak mengarahkan dirinya untuk membaca atau memahamikarya-karya para pendahulu dibidang yurisprudensi. Namun meski ‘Abd al-Wahab melecehkan banyak ahli hukum, ia memperlakukan ujaran sejumlah ulama, seperti ahli hukum bermazhab Hambali-Ibnu Taimyah, seolah-olah ujaran itu terwahyukan dari tuhan tidak boleh dipertanyakan atau didebat (El-Fadl, 2006: 73).

Setelah dari Basrah ia melanjutkan pengembaraannya ke Ahissa’ dikawasan teluk Arab, dan Baghdad dilembah Mesopotamia (Irak), Damaskus di Syiria serta Isfahan dan Qum di Iran. Pada literatur lain disebutkan bahwa pada waktu dikota Baghdad, beliau memperoleh seorang isteri yang kaya raya. Ketika isterinya meninggal ia mendapatkan warisan sebanyak 2000 dinar.

Selama dalam pengembaraannya Muhammad bin Abdul Wahab menjumpai pencemaran terhadap agama yang dilakukan oleh ummat muslim. Pencemaran-pencemaran terhadap ajaran islam murni bermula dimasa pemerintahan Islam Abbasiah di Baghdad.

Kemajuan ilmu pengetahuan dizaman ini telah menyeret kaum muslimin untuk ikut pula memasyarakatkan ajaran filsafat Yunani dan Romawi. Selain itu pengaruh mistik dan dari budaya rusia ikut berpengaruh negative pada kebudayaan islam.

Puncaknya adalah berbagai macam kebathilan dan takhayul yang dipraktikkan orang hindu mulai diikuti oleh ummat islam.

Dalam menjalankan gerakannya, kaum wahabi dinilai sangat keras dan tanpa ampun. Gerakan ini dalam ajarannya terus menerus menekan bahwa tidak ada jalan tengah dalam menjadi seorang muslim. Hanya ada dua pilihan: menjadi muslim atau tidak. Selain itu jika seorang muslim secara eksplisit dan atau implisit melakukan suatu perbuatan ketidak murnian kiemannanya kepada tuhan menurut standar yang dimiliki oleh Muhammad bin Abdul Wahhab maka, kaum wahabi tidak segan segan menuding orang muslim tersebut telah kafir dan dengan tanpa rasa cemas sedikitpun kaum Wahabi akan membunuh orang muslim itu (El-Fadl, 2006: 65).

Hal ini menyebabkan Muhammad bin Abdul Wahab dan pengikutnya mendapatkan tuduhan dari golongan musuhnya bahwa kaum Wahabi dinila sangat mudah mengkafirkan orang muslim yang tidak sepaham dengan mereka.

Selain itu mereka dinilai kejam karena tidak segan-segan membunuh orang muslim yang tidak sepaham dengan mereka.

Namun, walaupun dari pihak Muhammad bin Abdul Wahab telah memberikan alasan dalam setiap perbuatannya, masih saja kebencian dari pihak yang antipasti terhadap kaum Wahabi tidak menghilang.

Justru apa yang dilakukan oleh Muhammad bin Abdul Wahab ini menuai kritik pedas dari kakaknya yaitu Sulayman dan kabarnya juga dari ayah Abdul Wahab.

Ajarannya yang dinilai keras dan kejam itu, maka dalam menjalankan niatnya ia dimusuhi, terus ditindas. Ketika dia merasa mendapat perlawanan yang semakin menguat dan kentara, maka diapun meninggalkan desanya-‘Ainiyah-pergi ketempat kediaman Amir Saudi,di sebelah utara Riadh di desa ad-dariyah (Al-Bahiy, 1987: 73).

Sesampainya ia di desa Ad-dariyah, Muhammad bin Abdul Wahab berhasil menanamkan faham yang dimilikinya kepada Amir Saudi yang mana ia merupakan kepala suku Saud yang sangat berpengaruh diwilayah Nejd.

Sesudah meninggalnya Syeih Muhammad bin Abdul Wahhab pada 29 syawal 1206 = 1792 M (dalam usia 95 Th) juga, gerakan Wahhabi semakin berkembang ditangan penguasa Saudi, Muhammad bin Saud.

Setelah Muhammad bin Saud meninggal, perjuangannya dilanjutkan oleh putranya yaitu Abdul Aziz.

Sebelas tahun setelah meninggalnya Sekh Muhammad Bin Abdul Wahhab, kemudian tampillah Imam Saud bin ‘Abdul ‘Aziz untuk meneruskan perjuangan pendahulunya.

Imam Saud adalah cucu kepada Amir Muhammad bin Saud, rekan seperjuangan Syeikh semasa beliau masih hidup.

Berangkatlah Imam Saud bin ‘Abdul ‘Aziz menuju tanah Haram Mekah dan Madinah (Haramain) yang dikenal juga dengan nama tanah Hijaz.

Referensi

  • Mufrodi, Ali. Islam dikawasan Kebudayaan Arab. (Ciputat: Logos Wacana Ilmu, 1997)
  • El Fadl, Abou Khaled. Selamatkan Islam dari muslim Puritan. (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2006).
  • Asmuni Yusran. Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan Dalam Dunia Islam. (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998)
  • Al-Bahy, Muhammad. Alam Perkembangan Islam dan Perkembangannya. (Jakarta: Bulan Bintang, 1987).

Tinggalkan komentar