Pribadi Guru PAI di Sekolah Tingkat Dasar

Kepribadian Bagi Seorang Guru

Pribadi guru PAI di sekolah tingkat dasar merupakan hal yang penting.

Berbicara pada persoalan pribadi, memang tiada batasannya.

Setiap manusia mendambakan penilaian baik pada pribadinya.

Setiap manusia tentunya ingin memiliki pribadi yang baik di mata orang lain.

Namun demikian, pribadi yang baik itu tidak pula serta merta hadir dalam diri, tanpa adanya penanaman nilai-nilai kebaikan pada diri seseorang.

Nilai kebaikan itu sendiri didapatkan dari keilmuan yang dimilikinya.

Dikatakan demikian, karena orang yang memiliki ilmu lebih banyak, maka hendaknya akan memiliki kepribadian yang lebih baik sejalan dengan keilmuannya.

Berlaku juga untuk sebaliknya, bilamana seseorang itu memiliki keilmuan yang katakanlah belum baik, maka akan berdampak pada kepribadiannya.

Sebab kepribadian itu tidak dapat diciptakan atau direkayasa sendiri, melainkan dari apa yang kita ketahui atau keilmuan kita.

Kepribadian bagi seorang guru tentu tidak bisa sembarangan.

Dalam lingkungan pendidikan, guru itu sendiri untuk persoalan pribadinya saja pun turut diatur dalam perundang-undangan yang berlaku.

Kepribadian guru dalam perundang-undangan yang dimaksud dapat dilihat pada undang-undang republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen pasal 1 ayat 10.

Pada undang-undang di atas, disebutkan tentang kompetensi yang harus dimiliki seorang guru, yakni kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan professional.

Khususnya pada kepribadian, dalam undang-undang tersebut juga disebutkan bahwa yang dimaksudkan kepribadian itu yakni pribadi yang mantap dan stabil, arif dan bijaksana, wibawa, dan dapat menjadi teladan.

Demikian pentingnya pribadi seseorang terlebih bagi seorang guru yang dicantumkan dalam perundang-undangan.

Realitas yang ada, terlihat bahwa kompetensi kepribadian ini merupakan salah satu kompetensi yang sering diabaikan.

Dikatakan demikian karena kompetensi ini bersifat pribadi, maksudnya adalah bahwa pribadi seseorang itu tidak dapat secara serta-merta dirubah.

Karena kepribadian itu lahir dari dalam diri sendiri dan berjalan apa adanya tanpa bisa dibuat-buat atau direncanakan.

Secara umum, mungkin itu yang dapat dijadikan alasan mengapa kompetensi kepribadian itu terkesan diabaikan.

Pada hakikatnya, bukan diabaikan, melainkan pribadi itu sendiri tidak dapat dibuat-buat.

Sehingga timbul anggapan bahwa kepribadian itu diabaikan, walau secara kasat mata, memang demikian adanya.

Pentingnya Kepribadian Guru

Tentu kepribadian itu sangatlah penting bagi siapa saja, baik itu setiap umat manusia umumnya, maupun bagi setiap guru khususnya.

Memahami konsepsi di atas, tentu kita berangkat dulu dari apa yang dimaksud dengan guru.

Siapa sebenarnya guru itu?

Diawali dari pembagian ilmu menurut Al-Ghazali, yang membagi ilmu kepada 2 bagian, yakni ilmu yang baik dan ilmu yang tidak baik.

Ilmu itu didapati dari proses belajar.

Secara umum, belajar itu dimaknai suatu proses transfer ilmu antara si pemilik ilmu dengan si penerima ilmu.

Dalam konteks ini, pemberi ilmu itu disebut dengan guru dan penerima ilmu itu disebut sebagai siswa.

Dikatakan seseorang itu sudah belajar apabila sudah terjadi perubahan tingkah laku pada dirinya, sesuai dengan apa yang dimaksudkan dengan belajar yakni proses perubahan tingkah laku pada diri seseorang dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang buruk, menjadi baik.

Pengertian itu terlalu luas.

Karena tidak semua perubahan tingkah laku dapat dikatakan hasil dari belajar.

Oleh sebab itu, dengan pengertian yang luas itu, dirasa perlu untuk dibatasi.

Manusia bila dikatakan sudah belajar, maka akan terlihat ciri dalam dirinya, yakni adanya perubahan tingkah laku.

Yang dimaksud perubahan tingkah laku itu yakni dari yang tidak tahu, menjadi tahu, dari yang tidak baik menjadi baik.

Jika keadaannya sebaliknya (dari yang baik menjadi buruk) tentu bukanlah termasuk pada kategori belajar.

Contoh misalnya, seseorang yang sedang belajar ilmu hitam.

Ilmu hitam itu bukanlah ilmu yang membawanya kepada perubahan yang lebih baik, malah semakin buruk.

Tentu belajar ilmu ini tidak memberikan manfaat apa-apa pada diri manusia, justru akan menjerumuskan manusia ke lembah dosa yang membawanya ke neraka.

Nauzubillah

Contoh sebaliknya, jika seseorang belajar tentang Alquran mengenai tajwid, itu akan memberikan suatu pengetahuan baru dan apa yang diketahuinya itu memberi kebaikan pula pada dirinya.

Sebab kewajiban kita untuk membaca Alquran dengan baik dan benar (Tajwid).

Kalimat di atas setidaknya memberikan pemahaman kepada kita bahwa tidak semua ilmu itu adalah baik.

Tidak segala bidang ilmu itu dapat dikatakan belajar.

Karena pada hakikatnya bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik sesuai dengan tujuan penciptaan manusia di muka bumi ini, yakni syahidna (bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah).

Setelah kita memahami tentang belajar atau ilmu, selanjutnya kita berangkat kepada pentingnya kepribadian guru.

Guru merupakan seorang terpelajar dan berilmu.

Ilmu yang dipelajari guru itu akan membawa perubahan pada dirinya.

Semakin tinggi dan banyak ilmu seseorang itu, semakin baik pulalah kepribadian yang ditimbulkan dari perilakunya.

Pribadi yang baik itu akan terlihat dari perilakunya, kesabarannya, kerendahan hatinya, dan lain sebagainya.

Dengan ini, maka dapat dikatakan bahwa pribadi yang baik itu sangatlah penting adanya.

Tanpa adanya pribadi, atau pengabaian pribadi, bagaimana mungkin dapat menciptakan siswa yang berkepribadian baik pula.

Tentu akan menjadi isapan jempol semata.

Pribadi Guru PAI untuk Sekolah Dasar

Sekolah dasar merupakan jenjang pendidikan dasar dalam pendidikan di Indonesia.

Pendidikan dasar ini merupakan pendidikan yang wajib diikuti bagi setiap warga Negara Indonesia.

Pemerintahan di Indonesia mewajibkan belajar Sembilan tahun, mulai dari pendidikan yang paling rendah, hingga menengah, yakni SD sampai dengan SMP.

Pendidikan dasar ini diisi oleh siswa dengan usia sekitar 6 tahun hingga 13 tahun.

Bila dilihat dari usia tersebut, dapat dikatakan bahwa anak-anak ini masih usia belia dan masih suci pikirannya.

Belum dikotori oleh perkembangan maupun lingkungan.

Maka oleh sebab itu, perlu kewaspadaan dalam memberikan ilmu kepadanya.

Terlepas dari hal di atas, bahwa anak cenderung memiliki sifat imitasi atau meniru.

Siswa pada tingkat dasar akan lebih cepat meniru dari apa yang dilihatnya.

Sifat imitasi pada diri anak ini begitu kuat.

Terkadang, mereka juga bisa mempraktikkan atau memperagakan tarian yang mereka lihat di televisi.

Ini membuktikan bahwa sifat imitasi itu benar-benar kuat dalam diri anak tingkat dasar.

Bagi guru yang membimbingnya di lingkungan sekolah, hendaknya memiliki kepribadian yang baik pula.

Sebab, pribadi guru itu selalu dilihat anak setiap saat.

Anak akan meniru pribadi yang ditampilkan guru. kewibawaan guru PAI dalam pendidikan tingkat dasar terletak pada bagaimana guru menampilkan pribadi yang baik untuk ditiru atau di contoh.

Bila demikian, dapatlah dikatakan guru itu berwibawa.

Tinggalkan komentar