Pengertian Evaluasi Pendidikan

Kali ini saya ingin membahas tentang pengertian evaluasi pendidikan. Bila dikaji, setiap saat dan setiap kegiatan yang kita lakukan, pasti senantiasa kita melakukan evaluasi.

Hanya saja, kegiatan evaluasi yang dimaksudkan itu tidak dilakukan secara terstruktur.

Anda pergi ke kampus jam 7, dan akhirnya sampai di kampus jam 8 dan dalam keadaan terlambat masuk ke ruang kelas.

Disela-sela itu, keesokan harinya biasanya anda tidak ingin terlambat lagi bukan? Nah, anda pasti memikirkan apa hal yang membuat anda terlambat, dan bagaimana cara mengatasinya.

Sebut saja jalan keluar yang anda lakukan adalah keesokan harinya anda akan datang lebih cepat lagi. Atau, anda akan menaiki kenderaan pribadi supaya lebih cepat sampainya. Atau, anda memilih jalan alternatif lain untuk menghindari kemacetan.

Beberapa contoh di atas itu merupakan bagian dari evaluasi yang kita lakukan sehari-hari. Namun, kegiatan itu tidak dilakukan secara terstruktur.

Mari kita lihat tentang pengertian evaluasi pendidikan berikut ini.

Pengertian Evaluasi Pendidikan

Evaluasi adalah suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Evaluasi dalam pendidikan dapat diartikan sebagai suatu proses dalam usaha untuk mengumpulkan informasi yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk membuat keputusan akan perlu tidaknya memperbaiki sistem pembelajaran sesuai dengan tujuan yang ditetapkan((Neliwati dan Farida Jaya, 2015, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam, Medan: Diktat UIN SU, h. 75.)).

Arikunto((Suharsimi Arikunto, 2012, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, h. 3)) mengajukan tiga istilah dalam pembahasan ini, yaitu pengukuran, penilaian dan evaluasi.Pengukuran (measurement) adalah membandingkan sesuatu dengan suatu ukuran. Pengukuran ini bersifat kuantitatif.Penilaian adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik dan buruk secara kualitatif. Sedangkan evaluasi adalah mencakup pengukuran dan penilaian secara kuantitatif.

Evaluasi pendidikan memiliki makna luas, namun pada awalnya pengertian evaluasi pendidikan selalu dikaitkan dengan prestasi belajar siswa. Definisi yang pertama dikembangkan oleh RalphTyler (1950). Ahli ini mengatakan bahwa evaluasi merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa, dan bagian mana tujuan pendidikan sudah tercapai. Jika belum, bagaimana yang belum dan sebabnya((Suharsimi Arikunto, 2012, Ibid,.)).

Evaluasi atau penilaian menurut Sudjana((Nana Sudjana, 2009, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, h. 3.)) diartikan sebagai proses menentukan nilai suatu objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu. Proses tersebut berlangsung dalam bentuk interpretasi yang diakhiri dengan judgment. Interpretasi dan judgment merupkan tema penilaian atau evaluasi yang mengimplikasikan adanya suatu perbandingan antara kriteria dan kenyataan dalam konteks situasi tertentu.

Tujuan Evaluasi Pendidikan

Penilaian terhadap proses belajar mengajar bertujuan agak berbeda dengan tujaun penilaian hasil belajar. apabila penilaian hasil belajar lebih ditekankan pada derajat penguasaan tujuan pengajaran (intruksional) oleh para siswa, maka tujuan penilaian proses belajar mengajar lebih ditekankan pada perbaikan dan pengoptimalan kegiatan belajar mengajar itu sendiri, terutama efisiensi-keefektivan-produktivitasnya.((Nana Sudjana, 2009, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya) h. 57.))

Ramayulis((Ramayulis dan Syamsul Nizar. 2009. Filsafat Pendidikan Islam. (Jakarta: Kalam Mulia, h. 240-241).)) merumuskan beberapa poin yang menjadi tujuan evaluasi pendidikan, yakni:

  1. Untuk mengetahui dan mengumpulkan informasi tentang taraf perkembangan dan kemajuan yang diperoleh peserta didik dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam kurikulum pendidikan.
  2. Untuk mengetahui prestasi hasil belajar guna menetapkan keputusan apakah bahan pelajaran perlu diulang untuk dapat dilanjutkan. Dengan demikian, prinsip long life education bebar-benar berjalan secara berkesinambungan.
  3. Untuk mengetahui cara belajar dan mengajar apakah yang telah dilakukan pendidik benar-benar tepat atau tidak.
  4. Untuk mengetahui kelembagaan, ketersediaan sarana prasarana, dan efektivitas media pembelajaran yang digunakan.
  5. Untuk mengetahui sejauh mana muatan kurikulum telah dipenuhi dalam proses kegiatan belajar mengajar.
  6. Untuk mengetahui alokasi pembiayaan yang dibutuhkan dalam berbagai kebutuhan pendidikan, baik secara fisik, maupun kebutuhan psikis.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *