Penerapan Pendidikan Islam di Lembaga TK

Pendahuluan

Pendidikan merupakan hal yang terpenting bagi setiap insan manusia. Siapapun orangnya, akan membutuhkan pendidikan, baik dimanapun dan kapanpun. Pendidikan menjadi suatu hal yang dibutuhkan manusia. Abad ke abad, kebutuhan itu tidak berubah posisinya, tetap saja menjadi suatu kebutuhan.
Di era modern seperti ini, yang dipenuhi dengan berbagai teknologi, pendidikan harus tetap mampu eksis dalam bidangnya. Pendidikan, harus mampu menyeimbangkan keadaan masa kini yang bergelimpangan teknologi. Mulai dari televisi, handphone, internet, hingga media lainnya memberi teguran akan pendidikan untuk segera berbenah dan meninggalkan konsep pendidikan yang kuno.
Abad ke 20 ini, mulai bertebaran berbagai media di muka bumi. Pada tiap-tiap detiknya, teknologi itu terus berkembang. Alat-alat baru mulai bermunculan. Namun tidak untuk pendidikan. Untuk itu, pendidikan harus siap siaga dan terus berupaya untuk berkembang sebagai upaya dalam mengimbangi teknologi yang sudah masuk ke dalam lingkungan anak-anak, terutama dalam lingkungan anak usia 4-5 tahun yang sedang duduk di bangku sekolah Taman Kanak-kanak. Mengingat keadaan ini, bahwa dapat bernilai baik namun tidak sedikit juga yang mengkhawatirkan akan nilai negatif. 
Sebuah survey yang di diberitakan oleh CNN Indonesia (terbit pada Senin, 28/11/2016 08:02 WIB) memberikan sebuah hasil survey dari Asian Parent pada bulan November tahun 2014 lalu di Indonesia, Singapore, Malaysia, Thailand dan Filipina terdapat data bahwa 98% orangtua mengizinkan anaknya untuk menggunakan gawai (gadget). Ini bukan sesuatu yang kecil dan bukan pula sesuatu yang mesti diabaikan.
Penerapan Pendidikan Islam di Lembaga TK 1
Penerapan Pendidikan Islam di Lembaga TK

Dari data di atas, dipaparkan lagi data berupa 99% anak menggunakan gawai di rumah, 71% saat bepergian, 70% saat makan, 40% saat berada di rumah teman, dan 17% saat berada di sekolah. Diinformasikan juga bahwa dalam penelitian itu yang masih berlanjut, bahwa terdapat angka kekhawatiran orangtau akan dampak penggunaan gawai (gadget) saat anak menggunakannya. 92% orangtua khawatir akan kesehatan anak atas penggunaan gawai (gadget), 90% orangtua khawatir akan kecanduan penggunaan gawai, dan 88% orangtua khawatir akan terpaparkannya pornografi saat penggunaan gawai (gadget) (CNN IndonesiaAnak Pecandu Gawai Resahkan Orang Tua, diakses pada Selasa, 2 April 2019 20.40 WIB)

Hasil survey di atas menunjukkan bahwa hampir di setiap aktivitas anak selalu ditemani dengan gawai (gadget). Mulai dari bangun, hingga akan tertidur satu harian penuh gadget itu menghiasi lingkungan anak. Terlepas dari bayaha yang ditimbulkan oleh gadget itu, lingkungan anak akan dirampas secara tidak langsung dengan kahadiran gadget. Dimana, kehidupan anak yang layaknya makan bersama dengan orangtua, bermain bersama dengan teman, memiliki waktu tertentu untuk berkumpul dengan keluarga, kini mulai terkuras, bahkan hampir tidak memiliki waktu yang cukup dinikmati untuk berkumpul bersama keluarga. Terlebih lagi dalam usia anak 4-5 tahun yang sedang duduk dalam bangku taman kanak-kanak, yang seharusnya berprinsip bermain sambil belajar, kini mulai terabaikan.Tentu hal ini menjadi sesuatu yang patut untuk diperbincangkan.
Dari hasil survey di atas pula, dapat terlihat bahwa teknologi dengan salah satu unitnya yaitu gawai (gadget) dapat memberikan dampak negatif terhadap anak. Tentu, dengan hadirnya dampak negatif ini, kekhawatiran orangtua akan lebih bertambah. Terlebih lagi bilamana teknologi semacam ini terus berkembang dan berkembang. Tentunya, rasa kekhawatiran itu akan senantiasa hadir.
Penggunaan gadget kerap sekali dianggap sepele, terlebih lagi penggunaan gadget itu diperankan oleh anak usia dibawah 18 tahun. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Setianingsih, Amila Wahyuni Ardani, dan Firiana Noor Khayati dalam jurnalnya yang diterbitkan oleh researchgate.net dengan judul “Dampak Penggunaan Gadget Pada Anak Usia Prasekolah Dapat Meningkatan Resiko Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas” menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh penggunaan gadget terhadap resiko gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif pada anak usia prasekolah.
Mengingat akan besarnya pengaruh teknologi masa kini, maka perlu kewaspadaan dari orangtua secara khusus, dan begitu pula bagi lembaga penyelenggara pendidikan untuk lebih memfasilitasi para anak didik dengan kegiatan belajar mengajar sebagaimana mestinya. Pendidikan sejatinya terus melakukan perkembangan dan perubahan dalam waktu ke waktu untuk mencapai tingkat pendidikan yang lebih baik dan mampu menstabilkan maraknya teknologi masa kini. Disini letak dan peran pendidikan itu dianggap penting sebagai pengayom anak didik untuk melakukan kegiatan belajar.

Pendidikan perlu berbenah, agar tidak tertingal dengan maraknya teknologi. Pembenahan harus setiap waktu dilakukan. Evaluasi secara berkala perlu diupayakan agar senantiasa terlihat bagian yang perlu untuk diperbaiki dalam pendidikan. Pendidikan harus bergerak cepat agar tidak tertinggal dalam kehidupan peserta didik. Pembelajaran di sekolah, kurikulum yang dihadirkan, perlu memperhatikan akan kesenangan peserta didik. Memodifikasinya sedemikian rupa dengan memperhatikan kesenangan peserta didik, dirasa akan membantu akan semakin timbulnya rasa senang peserta didik dalam bersekolah dan mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah. Jangan sampai, anak lebih senang berada di rumah bersama dengan gawai (gadget) nya ketimbang harus menimba ilmu di sekolah. Itulah kerugian yang nyata.

Pendidikan Islam sebagai salah satu bidang kajian dalam kegiatan belajar mengajar perlu diperhatikan, atau bahkan ditonjolkan. Hal yang demikian itu, dimaksudkan agar kiranya kepribadian para peserta didik itu lebih terarah. Islam tidak menganut ajaran kekerasan. Adapun sebaliknya, berbuat baik kepada sesama merupakan ciri Islam sejati. Agama Islam dinilai akan mampu membekali para peserta didik dalam kehidupan kesehariannya, baik di sekolah, di rumah, maupun di masyarakat. Dengan berbekal nilai ke-Islaman, tentunya pribadi yang dicita-citakan bangsa akan tercapai.

Tentang kehadiran pendidikan Islam di sekolah, tampaknya tak pantas untuk dihilangkan. Sebab, pendidikan Islam-lah yang diyakini akan mampu membekali peserta didik itu dalam berprilaku baik. Pendidikan Islam, perlu dikembangkan dalam hal penerapan kurikulum di lembaga pendidikan, terutama dalam lembaga pendidikan formal pada tingkatan Taman Kanak-kanak. Pengembangan kurikulum ini tentunya dimiliki oleh lembaga itu sendiri, sejauh mana menganggap pentingnya aplikasi dari pendidikan Islam ini.

Seiring berjalannya waktu, pendidikan Islam mulai terlihat, terlebih pada abad ke 20 ini. Mulai bermunculan lembaga sekolah yang menyelenggarakan pendidikan Islam secara terstruktur dengan melebelkan sekolahnya sebagai sekolah Islam. Beberapa nama sekolahpun mulai bermunculan dan mulai populer. Ini merupakan suatu loncatan bagus dan awal yang baik bagi pendidikan Islam di Indonesia. Nampaknya, pendidikan Islam mulai menunjukkan ciri jati dirinya di mata masyarakat.

Selanjutnya, masih dalam tahap penulisan

Tinggalkan komentar