kompetensi-kepribadian-guru

Kompetensi Kepribadian Guru: The Definitive Guide for Teachers

Berbicara persoalan kompetensi kepribadian guru, memang hal ini sangat serius. Kepribadian guru diyakini dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.

Apa sebenarnya kompetensi kepribadian itu?

Disini, akan dijelaskan secara rinci tentang kompetensi kepribadian bagi seorang guru.


Apa Itu Kompetensi Kepribadian

Istilah ini memang bukanlah istilah yang baru saja didengar bagi seorang guru.

Tentu, jauh sebelum postingan ini diterbitkan, istilah ini sudah sering dibicarakan.

Bahkan, sudah banyak para ahli terdahulu yang menjelaskan tentang hal ini.

Kompetensi, merupakan sebuah kemampuan yang dimiliki oleh person/manusia, yang umumnya bersifat acuan untuk sebuah kemampuan (skill).

Dalam KBBI, dijelaskan bahwa kompetensi adalah kewenangan untuk menentukan sesuatu.

Hawi (2013: 1) menyebutnya competence yang berasal dari bahasa Inggris dan berarti kemampuan atau kecakapan.

Umumnya, hal ini bersifat kualitatif maupun kuantitatif yang mencakup kemampuan, kecakapan, atau keterampilan tertentu.

Terkadang, kata kompetensi biasa diistilahkan tentang standar untuk suatu bidang tertentu.

Misalnya, dalam membidangi pekerjaan sebagai administrator, tentu saja harus memiliki kompetensi pengarsipan (misalnya).

Begitu pula halnya dengan profesi guru, yang dalam hal ini juga memiliki kompetensi, atau kemampuan yang mempuni.

Kompetensi Kepribadian Guru: The Definitive Guide for Teachers 1

Kompetensi itu pada umumnya dirumuskan dengan matang terlebih dahulu. Ini bukan bercerita soal kemauan pribadi seseorang saja, melainkan melalui perumusan mendalam.

Jadi, biasanya dalam menyusun kompetensi itu tentu diperlukan adanya kesesuaian atau keselarasan dengan bidang pekerjaan yang akan dikerjakan.

Maka terkadang muncul istilah kompeten. Contohnya begini:

Dia berkompeten dalam bidangnya…

Maksudnya, dia mempunyai keahlian dalam bidang yang dikerjakannya.

Hal inilah yang menjadi dasar bahwa kompetensi itu penting untuk dirumuskan, lalu kemudian dimengerti untuk dilaksanakan dalam upaya mencapai tujuan tertentu.

Kepribadian, berasal dari kata pribadi, yang artinya diri sendiri.

Kepribadian sudah pasti mengarah akan persoalan pribadi. Tetapi, disini terdapat batasan.

Tidak semua persoalan pribadi, diturut sertakan dalam kepribadian pada bahasan ini.

Kepribadian itu identik dengan prilaku atau sikap dalam kesehariannya.

Seseorang yang menjalankan suatu kegiatan yang baik, maka terkadang dijuluki sebagai orang yang memiliki kepribadian yang baik pula.

Demikian sebaliknya, bila seseorang berperilaku buruk, maka akan dikaitkan juga dengan kepribadian buruk.

Pada dasarnya, persoalan kepribadian ini adalah suatu perilaku atau sikap yang dihasilkan dari pemikiran dan tidak dapat direncanakan, atau disengaja.

Artinya, kepribadian itu muncul dengan sendirinya sesuai dengan pemikiran seseorang.

Kepribadian itu tidak dapat dibuat-buat. Adapun ia, berlangsung mengalir apa adanya.


Kompetensi Kepribadian Guru

Berbicara persoalan kompetensi kepribadian guru, sudah banyak dijelaskan dan dipublikasikan tentangnya.

Kompetensi kepribadian seperti yang telah dipaparkan di atas, merupakan suatu komponen yang perlu bagi diri seorang guru.

Bagaimana tidak, guru adalah sosok pemegang peran penting dalam keberlangsungan kegiatan belajar mengajar.

Artinya, keberhasilan siswa juga terletak pada bagaimana pribadi guru tersebut.

Ini adalah jawaban, mengapa kepribadian guru itu penting.

Kompetensi kepribadian guru yang baik, tentu saja akan membuka peluang akan terciptanya kualitas pendidikan yang baik pula.

Dengan sendirinya, juga akan mencerminkan peserta didik yang baik pula.

Andai saja hal ini diabaikan begitu saja, tanpa acuan, tanpa rujukan.

Bayangkan apa yang terjadi. Seperti halnya sebuah berita melalui media liputan6.com yang menjelaskan tindakan kekerasan guru terhadap siswa yang videonya belakangan ini (2019) viral di sosial media.

Kompetensi Kepribadian Guru: The Definitive Guide for Teachers 2

Ini menimbulkan banyak pertanyaan tentang:

Bagaimana mungkin seorang guru memperlakukan siswanya tidak mendidik semacam itu?

Pertanyaan itu sah-sah saja. Karena, sejatinya seorang guru adalah pendidik, dan bukan musuh bagi peserta didiknya. Seharusnya keadaan ini tidak terjadi.

Tetapi, ada hal lain dari sini. news.detik.com meliput berita tentang siswa yang enggan sekolah karena dicubit oleh gurunya.

Kompetensi Kepribadian Guru: The Definitive Guide for Teachers 3

Lihatlah apa yang dipublikasikan oleh media online, news.detik.com tersebut di atas, tentang siswa yang dicubit guru.

Hanya dengan perlakuan cubitan, lantas para siswa enggan untuk bersekolah.

Apakah ini merupakan kegagalan guru dalam mengemas kompetensi yang dimilikinya?

Ataukah hanya ekspresi berlebih dari siswa?

Tetapi, hal itu bukanlah topik dalam pembahasan ini. Ini hanya sebatas gambaran kondisi semata terkait tentang kondisi pendidikan dan pentingnya kompetensi guru dalam kegiatan belajar mengajarnya.

Walau tidak selamanya permasalahan itu terletak pada sisi guru, tetapi dengan lahirnya kompetensi guru ini, paling tidak dapat menjadi acuan bagi guru untuk lebih memperhatikan profesinya.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, menerangkan bahwa kompetensi kepribadian adalah kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, wibawa, serta dapat menjadi teladan.

Kompetensi Kepribadian Guru: The Definitive Guide for Teachers 4

Ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Suprihatiningrum (2013: 106) yang menjelaskan bahwa kompetensi kepribadian guru adalah kemampuan orang atau personal yang tercermin dengan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, berwibawa, jujur, berakhlak mulia dan dapat dijadikan teladan.

Jadi, kompetensi kepribadian guru merupakan kemampuan personal guru yang lebih menyangkut jati diri seorang guru sebagai pribadi yang baik, tanggung jawab, terbuka serta selalu upgrade keilmuan secara terus menerus.


Indikator Kompetensi Kepribadian Guru

Penjelasan sebelumnya, telah menjelaskan tentang kompetensi kepribadian guru itu sendiri.

Jadi, pada bagian ini mengulas tentang indikator apa saja yang ada pada kompetensi kepribadian yang dimaksud.

Saya menemukan sesuatu untuk itu.

Dalam buku Kunandar (2009: 75), disana dijelaskan tentang indikator kompetensi yang dimaksudkan itu.

Ada beberapa yang dimuat didalamnya, yaitu:

  1. Kepribadian mantap dan sbatil
  2. Kepribadian dewasa
  3. Kepribadian arif
  4. Kepribadian berwibawa
  5. Kepribadian berakhlak mulia dan dapat menjadi teladan.
kompetensi-kepribadian-guru-indikator

Jika dilihat dengan seksama, keseluruhan indikator itu sedikit berbeda dengan apa yang tercantum dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomo 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen.

Tetapi, ini merupakan sebuah modifikasi dan sama sekali tidak mengurangi makna darinya.

Adapun seluruh indikator yang disebutkan dalam Undang-undang itu, include dalam 5 bagian yang dituliskan oleh Kunandar. Saya pikir, ini lebih efektif untuk dijadikan sebagai suatu pemahaman.


Pentingnya Kompetensi Kepribadian Guru

Suatu pertanyaan besar tentang hal ini, adalah seberapa penting kompetensi kepribadian guru itu?

Pertanyaan ini dibuat dikarenakan hal ini terkesan tersembunyi.

Kompetensi kepribadian itu, terkadang dinilai sebatas kualitatif semata. Cukup jarang penilaian tentangnya melalui kualitatif.

Untuk menjawab persoalan ini, tentunya dengan merujuk pada poin apa saja yang ada dalam kompetensi kepribadian guru.

Dengan demikian, dapatlah dipastikan bahwa hal ini merupakan bagian yang penting bagi seorang guru.

Bagaimana bila tidak menerapkannya?

Tidak terbayangkan bila seorang aktivis pendidikan seperti guru, tidak menjalankan kompetensinya.

Ini mencakup segala hal tentang profesinya, baik itu dari sisi praktik pembelajaran, hingga pada lingkungan dimana dia hidup.

Mari kita ambil sebagai suatu contoh, dari satu poin kompetensi kepribadian itu.

Misalnya, guru tidak memiliki indikator dewasa.

Jika anda mengetahui, salah satu sub indikator dari kepribadian dewasa ini adalah etos kerja (Kunandar, 2009: 75).

Apa yang akan terjadi bila guru tidak memiliki etos kerja dalam bidangnya?

Misalnya, tidak membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dalam materi yang diajarkannya di kelas?

Atau bidang yang lainnya?

Itu adalah praktik yang buruk. Tujuan pembelajaran tentu saja tidak akan tercapai.

Tetapi, disini tidak akan diulas keseluruhan subindikator itu sebagai contoh. Saya mengira bahwa ini dapat dijadikan dasar bahwa kompetensi kepribadian guru itu sangatlah penting.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *