Evaluasi Pendidikan Ditinjau Dari Segi Konsep Dasar

Evaluasi pendidikan merupakan hal yang kerap sekali dilaksanakan bagi praktisi pendidikan.

Salah satu contohnya yaitu guru selaku evaluator terhadap hasil belajar peserta didiknya.

Namun, dalam lingkungan pendidikan mungkin masih ditemukan guru yang belum memahami akan evaluasi pendidikan ini.

Maka dari itu, bagian ini dirasa penting untuk dikaji lebih mendalam dan teoritis.

Dalam tulisan ini, akan dibahas tentang:

  1. Apa Yang Dimaksud Dengan Evaluasi Pendidikan
  2. Apa Itu Penilaian, Pengukuran dan Evaluasi
  3. Apa Tujuan Evaluasi Pendidikan
  4. Mengapa Evaluasi Masih Diperlukan Dalam Dunia Pendidikan

Saya menunggu tanggapan anda tentang evaluasi pendidikan yang anda ketahui di kolom komentar yang sudah disediakan.

Sekarang saatnya mengetahui tentang evaluasi pendidikan lebih dalam.


Apa Yang Dimaksud Dengan Evaluasi Pendidikan

Hal ini bukanlah hal yang baru saja dibahas.

Banyak para ahli sudah mendefenisikannya lebih dulu tentang yang dimaksud dengan evaluasi pendidikan ini.

evaluasi-pendidikan

Seperti yang dijelaskan oleh Ramayulis1 yang mengatakan bahwa evaluasi adalah proses menganalisis, mengumpulkan informasi guna menggunakan keluasan pencapaian tujuan oleh individu.

Dalam konteks pendidikan, individu maksudnya disini adalah para peserta didik itu sendiri.

Hal senada juga diungkapkan oleh Sudjana2 yang mengatakan bahwa evaluasi adalah proses menentukan nilai suatu objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu. Proses tersebut berlangsung dalam bentuk interpretasi yang diakhiri dengan judgement.

Poin yang didapat yakni adanya judgement.

Judgemen berarti pertimbangan atau dapat juga diartikan keputusan.

Evaluasi pendidikan berarti melakukan penilaian terhadap kegiatan belajar siswa untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan dalam mencapai tujuan pembelajaran kala itu.

Jadi, setiap materi pelajaran yang diajarkan oleh guru tentunya memiliki tujuan tertentu yang ingin dicapai.

Dalam rangka mengetahui atau melihat sejauh mana tingkat keberhasilan itu, maka dilakukanlah evaluasi.

Kegiatan evaluasi melibatkan dua (2) kegiatan, yaitu mengukur dan menilai.

Bila keduanya ini dilaksanakan, maka itulah yang dikatakan evaluasi.

Sebagai contoh, seorang guru melakukan evaluasi terhadap peserta didiknya dengan memberikan tes tertulis kepada mereka.

Selanjutnya, para peserta didik itu menyelesaikannya.

Hal selanjutnya yaitu mengukur dan menilai tentang tes yang dilakukan siswa tersebut.

Lalu kemudian memberikan nilai (judgement) terhadap tiap-tiap peserta didiknya.

Apa Itu Pengukuran, Penilaian dan Evaluasi

Sebenarnya, ketiga bagian ini merupakan satu kesatuan yang utuh.

Evaluasi tidak dapat terjadi bila tidak melakukan penilaian.

Penilaian tidak akan dapat dilakukan, sebelum melakukan pengukuran.

Ketiganya adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam hal evaluasi.

Bagaikan sebuah sistem, ketiga hal ini saling memiliki keterkaitan.

Pengukuran (Measurement)

Pengukuran adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran tertentu.3

Pengukuran bersifat kuantitatif.

Sebagai contoh, seseorang memberikan dua buah penggaris yang tidak sama panjangnya dan kita diminta untuk memilih salah satunya.

Tentu saja, kita akan mengukur terlebih dahulu penggaris yang lebih panjang, dan memilihnya.

Pemilihan penggaris yang lebih pendek mungkin dikarenakan alasan khusus.

Umumnya, kita akan memilih penggaris yang panjang.

pengukuran-evaluasi-pendidikan

Dalam contoh ini, sesungguhnya seseorang telah melakukan kegiatan pengukuran, dimana mengukur sesuatu dengan ukuran tertentu yang dalam contoh di atas perbandingannya.

Dalam contoh lain misalnya:
Seseorang membeli buah mangga di pasar.

Umumnya, orang akan mencari buah mangga yang layak dimakan seperti manis, kekuningan, dan lain sebagainya.

Buah mangga yang belum layak digunakan, biasanya dipilih dengan alasan tertentu dan tidak dibahas disini.

Saat seseorang itu membeli buah, tentunya melihat mana buah yang berwarna kekuningan, agak sedikit ranum.

Bila sudah menemukannya, maka memilihnya untuk dibeli.

Hal ini berdasarkan pengalaman, bahwa buah yang berwarna sedikit kekuningan dan ranum itu lebih terasa manis dan layak untuk dikonsumsi.

Hal ini merupakan bagian dari pengukuran, dimana seseorang melihat berdasarkan pengalaman biasanya, yaitu melihat buah mangga yang berwarna kekuningan dan ranum.

Itulah pengukuran.

Setelah melakukan pengukuran, maka seseorang itu akan menilai.

Penilaian (Evaluation)

Ini merupakan lanjutan dari pengukuran.

Setelah mengukur sesuatu dengan satu ukuran tertentu, maka seseorang itu akan menilai.

Penilaian suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk, manis tidak manis, cantik kurang cantik, dan lain sebagainya.4

Penilaian ini bersifat kualitatif.

Seperti dalam contoh di atas (penggaris), setelah mengukur mana penggaris yang lebih panjang, maka selanjutnya adalah menilai dan akan mengatakan bahwa “ini penggaris yang panjang”.

Maka selanjutnya memilihnya untuk diambil.

Begitu pula halnya dengan contoh buah di atas.

Seseorang akan menilai bahwa buah sedikit kekuningan itu memiliki rasa yang manis dan dapat dikonsumsi.

Maka selanjutnya memilihnya untuk dibeli.

Evaluasi

Evaluasi adalah kegiatan yang mencakup kedua istilah di atas, yaitu pengukuran dan penilaian.

Menurut Arikunto,5 kata evaluasi dalam bahasa Indonesia itu diperoleh dari kata evaluation yang berarti menilai atau penilaian.

Umumnya, ketiga istilah ini dapat berarti sama dan dapat digunakan secara bergantian.

Apa Tujuan Evaluasi Pendidikan

Dalam melakukan kegiatan evaluasi, tentu dirasa perlu memandang tujuan dari evaluasi pendidikan itu sendiri.

Beberapa ahli juga memberikan pendapatnya mengenai tujuan evaluasi pendidikan ini.

Sudjana6 mengatakan bahwa Penilaian terhadap proses belajar mengajar bertujuan agak berbeda dengan tujaun penilaian hasil belajar. Apabila penilaian hasil belajar lebih ditekankan pada derajat penguasaan tujuan pengajaran (intruksional) oleh para siswa, maka tujuan penilaian proses belajar mengajar lebih ditekankan pada perbaikan dan pengoptimalan kegiatan belajar mengjaar itu sendiri, terutama efisiensi-keefektivan-produktivitasnya.

Lebih spesifik, Ramayulis7 merumuskan beberapa poin yang menjadi tujuan evaluasi, yaitu sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui atau mengumpulkan informasi tentang taraf perkembangan dan kemajuan yang diperoleh peserta didik dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam kurikulum pendidikan.
  2. Mengetahui prestasi hasil belajar guna menetapkan keputusan apakah bahan pelajaran perlu diulang untuk dapat dilanjutkan. Dengan demikian, prinsip long life education bebar-benar berlajan secara berkesinambungan.
  3. Mengetahui efektivitas cara belajar dan mengajar apakah yang telah dilakukan pendidik benar-benar tepat atau tidak.
  4. Mengetahui kelembagaan, ketersediaan sarana prasarana, dan efektifitas media yang digunakan.
  5. Mengetahui sejauh mana muatan kurikulum telah dipenuhi dalam proses kegiatan belajar mengajar.
  6. Mengetahui alokasi pembiayaan yang dibutuhkan dalam berbagai kebutuhan pendidikan, baik secara fisik, maupun kebutuhan psikis.

Beberapa pendapat para ahli di atas, dapatlah diambil kesimpulan untuk menjawab tujuan evaluasi ini.

Adapun beberapa tujuan dilakukannya evaluasi adalah sebagai berikut:

1. Untuk Mengukur Keberhasilan

Setiap kegiatan yang dilakukan tentu memiliki tujuan tertentu.

Bila kegiatan itu dapat terlaksana dengan baik, maka keberhasilan adalah kata yang tepat untuk disandangkan padanya.

Bagaimana cara mengetahui berhasil atau tidaknya sebuah kegiatan itu?

Maka, disinilah dibutuhkan kegiatan evaluasi dan hal ini merupakan bagian dari tujuan evaluasi.

Dengan melakukan evaluasi terhadap suatu kegiatan, maka akan mengetahui tentang sejauh mana tingkat keberhasilan kegiatan yang dilakukan itu dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Sebagai contoh, sebuah kegiatan belajar mengajar dengan materi sholat di lingkungan sekolah.

Anggap saja, tujuan dari materi sholat ini adalah siswa dapat mempraktikkan gerakan sholat dengan sempurna.

Maka, tentulah dilakukan evaluasi untuk mengetahuinya, misalnya dengan cara melakukan tes dengan bentuk non tes (praktek).

Dengan ini, akan didapati hasil berdasarkan pengukuran dan penilaian tertentu yang menggambarkan berhasil atau tidaknya seseorang itu mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Ini merupakan bagian penting dalam evaluasi pendidikan, yaitu untuk mengukur sejauh mana tingkat keberhasilan sebuah kegiatan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

2. Untuk Mengetahui Kelemahan

Disamping mengetahui keberhasilan, tentu akan sangat baik bila melihat kelemahan yang ada.

Hal ini umumnya akan terlihat bila sebuah kegiatan yang dilakukan itu tidak berjalan dengan baik.

Sebagai contoh, kasus yang digunakan sama seperti nomor 1 di atas.

Sebuah kegiatan belajar siswa dengan materi sholat dilaksanakan.

Diakhir kegiatan dilakukan evaluasi dengan melakukan praktik sholat.

Ternyata, setelah dilakukan evaluasi, terdapat siswa yang tidak dapat mempraktikkan sholat itu, sehingga membuat kesimpulan bahwa peserta didik tersebut tidak dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Dengan evaluasi yang dilakukan, akan memperlihatkan titik atau poin dimana kegagalan itu ada.

Hal ini akan ditemui.

Jadi, dengan melakukan evaluasi, kelemahan itu akan terlihat dan menjadi bahan analisa demi perbaikan di masa mendatang.

3. Untuk Memberikan Judgement Terhadap Sesuatu

Judgement atau keputusan merupakan bagian akhir dari evaluasi.

Judgement terhadap sesuatu adalah hal yang wajib diberikan untuk menentukan poin terhadap sebuah kegiatan.

Dengan melakukan evaluasi, maka akan memperlihatkan sebuah nilai kegiatan itu sendiri.

Anggap saja mengikut pada contoh yang dijelaskan sebelumnya.

Sebagai contoh: Dalam kegiatan sholat, terdapat beberapa siswa yang meraih nilai memuaskan, dan sebagian lainnya bernilai tidak memuaskan.

Sehingga, setiap orang mendapatkan nilai tersendiri. Misalnya, si A mendapatkan nilai 10, si B mendapatkan nilai 90, dan seterusnya.

Lebih luas lagi, judgement yang diberikan itu dapat dikelompokkan oleh guru untuk diberikan pembelajaran lebih agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Inilah yang menjadi alasan mengapa evaluasi itu penting untuk dilakukan.

Mengapa Evaluasi Masih Diperlukan Dalam Dunia Pendidikan

Jelas saja evaluasi itu akan tetap diperlukan dalam dunia pendidikan.

Bagaimana tidak, tentunya dalam kegiatan pendidikan atau pembelajaran, haruslah memiliki dan memandang perlu pencapaian tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan demi mencapai cita-cita pendidikan di tanah air.

Pada penjelasan sebelumnya, memperlihatkan bahwa betapa pentingnya kegiatan evaluasi itu dilakukan, terlebih dalam dunia pendidikan.

Evaluasi senantiasa diperlukan.

Bila memperhatikan tentang ranah evaluasi, tentunya akan lebih dapat menjawab pertanyaan ini.

Evaluasi itu lebih luasnya membahas tentang ranah-ranah yang dapat dievaluasi, seperti ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik.

Ketiga ranah ini, perlu dikembangkan dalam diri peserta didik demi mencapai manusia yang insan kamil.

Untuk mengembangkan masing-masing ranah itu, tentu diperlukan adanya penilaian atau evaluasi.

Akan menjadi suatu omong kosong bila pembelajaran itu tidak menekankan pada evaluasi.

Paling tidak, deskripsi ini menjelaskan bahwa evaluasi masih diperlukan dan memang penting adanya.

Referensi

1Ramayulis. 2008. Metodologi Pendidikan Agama Islam. Jartarta: Kalam Mulia. h. 332
2Sudjana, Nana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. h. 3
3Arikunto, Suharsimi. 2012. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. h. 3
4Arikunto, Suharsimi. h.3.
5Arikunto, Suharsimi. h.3.
6Sudjana, Nana. 2009. h. 57.
7Ramayulis dan Syamsul Nizar. Filsafat Pendidikan Islam. (Jakarta: Kalam Mulia, 2009). h. 240-241.

2 pemikiran pada “Evaluasi Pendidikan Ditinjau Dari Segi Konsep Dasar”

Tinggalkan komentar