Ciri Guru PAI

ciri ciri guru pai

Guru merupakan tokoh sentral dalam lingkungan pendidikan, terutama dalam lingkungan kelas. Guru itu sosok yang senantiasa dilihat dan ditiru segala perilakunya yang terlihat oleh peserta didiknya. Oleh sebab itu, tentu guru itu sejatinyalah mencerminkan sikap kemapanan dan kedewasaannya dalam lingkungannya, terutama bagi peserta didiknya sendiri. Hal buruk yang dicerminkan guru tentulah akan berdampak buruk pula bagi para peserta didiknya. Sedangkan hal yang baik saja dilakukan oleh guru belum tentu ditiru oleh peserta didiknya, konon lagi sesuatu yang buruk. Tentu ini menjadi catatan tersendiri bagi pribadi seorang guru.
Guru PAI merupakan pemeran atau pengajar yang mengampuh mata pelajaran pendidikan agama islam yang dalam bahasan ini disingkat menjadi PAI. Guru PAI dekat dengan panggilan abi, ustad, muallim, dan lain sebagainya yang bergelar dengan bercirikan ke-Islaman. Dari gelar-gelar yang disandangkan pada dirinya, tentulah perilaku guru PAI itu harus seperti apa yang dicerminkan dari gelarnya. Gelar-gelar yang baik itu diharapkan akan mencerminkan pribadi yang baik pula bagi guru PAI itu sendiri.
Ciri dalam satu bidang memang tentu berbeda-beda. Manusia, memang tentu banyak karakter dan cirinya. Sah-sah saja bila tiap-tiap orang itu berbeda perilakunya, walau dalam profesi yang serupa. Misalnya guru PAI yang satu mengajar dengan lemah lembut, dan guru PAI yang satunya lagi mengajar dengan sedikit nada keras. Perbedaan itu memang tentulah ada yang menunjukkan ciri dari masing-masing manusia. Tapi pembahasan kali ini, akan disajikan tentang ciri guru PAI secara umum seperti apa yang diharapkan kebanyakan masyarakat dalam lingkungan kemasyarakatan. Ciri itu tidak berbeda jauh dengan karakter. Sebelum kita berangkan ke ciri guru PAI, terlebih dahulu kita perlu untuk mengetauhi karakter guru PAI itu sendiri. Sebab karakter itu adalah pribadi, dan ciri itu adalah yang bersifat tambahan atau penampilan yang menjadikan diri yang satu berbeda dengan yang lainnya. Adapun karakter guru PAI dapat dilihat pada penjelasan di bawah ini.

Sikap Penyabar

Kebanyakan guru PAI itu bersifat penyabar. Artinya, dapat menyelesaikan segala persoalan dengan tentang tanpa adanya sikap marah. Biasanya, guru PAI itu cukup dekat dengan para peserta didiknya. Ini disebabkan karena bidang yang dijalankan itu lebih kepada ranah keagamaan dan keyakinan. Jadi, diperlukan pendekatan yang berbeda dengan mata pelajaran di bidang lain.

Guru itu sebagai pengganti orangtua. Bila dikatakan orangtua, maka tentulah orangtua itu adalah manusia yang sabar. Jangan sampai, kita sebagai guru tidak dinilai oleh siswa karena kita tidak mampu menyamai posisi orangtuanya untuk di sekolah. Guru, tentunya sebagai pengganti orangtua di rumah. 

Sikap Penuh Kasih Sayang

Bagian ini memang kerap sekali melekat bagi guru PAI. Guru PAI itu penuh kasih sayang. Dikatakan demikian karena seperti apa yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa kajian guru PAI itu adalah keagamaan. Pembahasannya lebih pada konteks pengalaman dan keadaan di lingkungan masyarakat. Diperlukan rasa kasih sayang dalam menyampaikan ilmunya kepada peserta didiknya agar ilmu yang diberikan itu benar-benar sampai kepada peserta didiknya.
Setelah pembahasan mengenai karakter, adapun yang menjadi ciri guru PAI adalah sebagai berikut:

Menggunakan Peci Atau Penutup Kepala Laki-laki

Hal ini memang kerap sekali terlihat bila kita berkunjung di salah satu sekolah dan melihat guru PAI. Memakai peci memang hal yang paling sering ditemui. Hal yang unik adalah, biasanya dalam sekolah itu yang memakai peci itu justru guru PAI saja, tidak untuk guru yang lain. Memang tidak di setiap sekolah seperti itu, tapi ciri seperti ini juga mungkin pernah kita jumpai. Hal ini menjadi catatan bahwa menggunakan peci merupakan ciri dari guru PAI.

Menggunakan Baju Koko, Batik, Atau Lengan Panjang

Pakaian memang dapat menunjukkan kepribadian tiap-tiap orang. Guru PAI sendiri biasanya memperhatikan pakaian yang dikenakannya. Biasanya, guru PAI di sekolah itu kerap ditemui menggunakan pakaian islami, seperti baju koko, baju baik, atau atribut lainnya yang bercirikan islam. Tentu, ini menjadi sangatlah baik di lingkungan sekolah agar menjadi panutan bagi tiap siswa sekolah.

Menggunakan Celana Keper atau Celana Goyang

Tidak asing lagi untuk dibeberapa daerah untuk bahasa celana goyang atau celana keper. Celana jenis ini merupakan celana yang paling sering ditemui pada diri guru PAI. Entah apa yang menjadi alas an guru PAImengenakan pakaian celana goyang ini. Tapi, hal ini menjadi catatan dan dapat dikatakan menjadi ciri guru PAI.

Berjanggut

Bagi laki-laki berjanggut itu merupakan sunnah Rasul. Baik guru PAI maupun tidak, berjanggut memang merupakan hal sunnah yang dianjurkan. Namun, pemikiran kita tatkala melihat seseorang yang berjenggot di sekolah, terkadang pikiran kita mengarahkan bahwa orang yang kita lihat itu adalah guru PAI. Walau itu hanya pandangan sekilah, tapi biasanya bila kita sadari itu kita alami secara berulang-ulang walau di tempat yang berbeda. Jadi, itu menjadi alasan mengapa berjanggut merupakan ciri guru PAI.

Memakai Minyak Wangi Nyong-nyong

Menggunakan minyak wangi itu baik dan bagus. Minyak wangi dalam konteks pendidikan juga tergolong dengan kurikulum tersembunyi. Untuk itu guru tidak dianjurkan untuk mengabaikan hal ini. Minyak wangi Islami itu mengandung wangi yang berbeda dengan wewangian jenis umum lainnya. Ada wangi yang khusus untuk menunjukkan cirinya. Biasanya, guru PAI itu menggunakan minyak wangi semacam ini.
Dari beberapa penjelasan di atas, maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa menjadi guru PAI itu diperlukan karakter yang religious yang mampu mencerminkan sikap dan pribadi yang shalih. Paling tidak, ciri di atas itu sudah menggambarkan ciri guru PAI yang baik. Walau tidak dipenuhi secara keseluruhan, ciri yang dipaparkan di atas itu tetap menjadi focus pandangan bagi kalangan umum untuk memberikan imajinasi bahwa yang demikian itu adalah guru PAI. Oleh sebab itu, guru PAI dirasa perlu untuk memperhatikan hal ini sebagai catatan bagi dirinya untuk memperbaiki kualitas penampilannya didepan para peserta didiknya. Dengan demikian, diharapkan tujuan pembelajaran akan tercapai.

Tinggalkan komentar